Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan. Foto: Dokumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Anthony Budiawan,
Managing Director Political Economy and Policy Studies
UKMDANBURSA.COM – Pernyataan pejabat bahwa Indonesia banyak uang terbukti hanya fatamorgana. Faktanya, neraca pembayaran mengalami defisit berkelanjutan.
Pemerintah dan Bank Indonesia harus menarik utang untuk menutupi defisit neraca pembayaran.
Artikel pilihan:
Menjaga Warisan Kutus Kutus, Racikan Ketulusan Membangun Industri

Tekor vs Kebijakan Tanpa Dasar?
Cadangan devisa RI jelas dibangun di atas tumpukan kewajiban utang luar negeri. Jumlah utang luar negeri mencapai lebih dari 430 miliar dolar AS. Sedangkan cadangan devisa per April 2026 hanya 146,2 miliar.
Tekor besar. Utang luar negeri menguap untuk membiayai defisit transaksi berjalan.
Ketika terjadi gejolak global, seperti konflik Iran saat ini, kreditor asing pun cepat-cepat menarik kembali dananya, untuk ditempatkan di instrumen investasi yang lebih aman di luar negeri. Malang tidak dapat ditolak, kurs rupiah anjlok makin dalam.
Artikel pilihan:
Konflik Iran dan Antisipasi Rupiah Berdarah, Menuju Berapa Merujuk Sejarah?

Apalagi, faktor kekacauan global dibarengi dengan kebijakan pemerintah RI yang tidak menentu, tidak ada dasar yang fair, tiba-tiba. Hal ini membuat investor tambah takut, capital outflow bertambah deras. Kurs rupiah semakin tenggelam.
Menkeu Tolak Tawaran Utang?
Narasi Indonesia banyak duit pun hanya menjadi senyuman sinis, tak hanya di kalangan investor. Setiap orang bisa berhitung.
Fiskal defisit, transaksi berjalan defisit. Jadi, uang dari mana kalau bukan dari utang, di tengah sedang terjadi arus balik dana asing deras keluar.
Dalam keadaan terjepit itu, pemerintah sekarang berusaha keras menjual surat utang, untuk menumpuk kembali devisa yang sudah turun 10,3 miliar selama 4 bulan pertama 2026. Menteri Keuangan beserta tim harus menjajakan surat utang sampai ke China dan Inggris.
Kalau dulu pepatah mengatakan “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”, yang berlaku sekarang adalah “kejarlah utang sampai ke China”. Bahkan, sampai ke negeri lain di seberang.
Publik pun teringat kembali pernyataan Menteri Keuangan beberapa waktu yang lalu, Indonesia menolak tawaran utang dari institusi keuangan global. Jumlahnya mencapai 25-30 miliar dolar AS.
Tetapi, dalam waktu sekejap, pemerintah sekarang malah buru-buru mencari utang ke mancanegara. Ironis. Ada apa?
Apakah benar institusi keuangan global tersebut menawarkan utang kepada Indonesia beberapa waktu lalu di Washington DC? Apa pun itu, yang penting fokus yang akan terjadi ke depan.
Publik mengucapkan selamat bekerja. Semoga berhasil menjajakan surat utang di negeri seberang.
8 Juni 2026
