Ketua Umum Wamti Agusdin Pulungan. Foto: Dokumentasi pribadi.
Oleh Agusdin Pulungan,
Ketua Umum Wamti
UKMDANBURSA.COM – Dalam beberapa dekade terakhir, sektor akuakultur berkembang menjadi salah satu penopang utama penyediaan protein dunia. Jika sebelumnya kebutuhan ikan masyarakat global lebih banyak dipenuhi oleh hasil tangkapan laut dan perairan umum, kini budidaya telah mengambil peran semakin dominan.
Perubahan ini bukan sekadar pergeseran metode produksi, melainkan transformasi besar dalam sistem pangan dunia. Dengan produksi akuakultur global yang telah mencapai lebih dari 130 juta ton per tahun dan nilai ekonomi sekitar USD 313 miliar, sektor ini diproyeksikan akan menjadi tulang punggung ketahanan pangan akuatik pada masa mendatang.
Artikel pilihan:
Kebijakan Tak Menentu, Kejar Utang ke Mana?

Ekspor Bernilai Tambah Tinggi
Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis dalam perkembangan tersebut. Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya perairan yang luas, Indonesia telah berkembang menjadi salah satu produsen akuakultur terbesar di dunia. Berbagai komoditas seperti udang, nila, lele, patin, bandeng, dan rumput laut telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional sekaligus mendukung pasokan pangan global.
Skala industrinya sangat besar. Produksi akuakultur Indonesia saat ini diperkirakan telah melampaui 13 juta ton per tahun dengan nilai ekonomi lebih dari Rp 190 triliun. Sektor ini juga melibatkan jutaan pembudidaya, pekerja, dan pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.
Dari nilai ekonomi tersebut, sekitar 60–70 persen biaya produksi berasal dari pakan. Dengan demikian, pasar pakan dan nutrisi akuakultur nasional diperkirakan bernilai lebih dari Rp 120 triliun per tahun.
Bioteknologi Fermentasi Basis Beras
Dalam hal ini, jika teknologi probiotik dan bioaditif berbasis fermentasi beras mampu menembus 1 persen saja dari pasar tersebut, nilai bisnis yang dapat diciptakan sudah mencapai sekitar Rp 1,2 triliun per tahun. Pada tingkat penetrasi 5 persen, potensi pasar meningkat menjadi lebih dari Rp 6 triliun per tahun.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa inovasi biologis di sektor akuakultur bukan lagi sekadar aktivitas penelitian, melainkan peluang industri strategis berskala nasional.
Artikel pilihan:
Protein Power: Senjata Indonesia Hadapi Geopolitik Memanas
Biaya Pakan vs Daya Saing Ekspor
Di sisi lain, pertumbuhan industri budidaya perikanan di Tanah Air masih menghadapi sejumlah kendala mendasar. Kenaikan harga pakan, munculnya berbagai penyakit, degradasi kualitas lingkungan budidaya, serta tuntutan pasar ekspor terhadap produk yang lebih aman dan ramah lingkungan menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Dalam banyak usaha budidaya intensif, biaya pakan bahkan dapat menyerap lebih dari separuh total biaya produksi. Oleh karena itu, setiap inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi pakan akan memberikan dampak ekonomi sangat berarti dan penguatan daya saing ekspor.
Dalam konteks tersebut, fermentasi berbasis beras menawarkan peluang yang menarik. Indonesia memiliki keunggulan berupa ketersediaan bahan baku yang melimpah, baik dalam bentuk beras, dedak, bekatul, maupun menir.
Setiap tahun, produksi gabah nasional yang melebihi 50 juta ton menghasilkan jutaan ton produk samping penggilingan padi. Sebagian besar masih dimanfaatkan sebagai bahan pakan konvensional atau bahkan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal melalui pendekatan bioteknologi, bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi sumber probiotik, enzim, dan metabolit fungsional yang memiliki manfaat besar bagi industri akuakultur.
Prinsip dasarnya sederhana. Mikroorganisme yang menguntungkan seperti Bacillus subtilis, Lactobacillus spp, dan Saccharomyces cerevisiae memanfaatkan substrat berbasis beras untuk menghasilkan berbagai senyawa bioaktif. Produk fermentasi yang dihasilkan kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki kesehatan saluran pencernaan ikan dan udang, meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien, sekaligus memperkuat ketahanan terhadap penyakit.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan probiotik dalam budidaya dapat memberikan peningkatan performa produksi yang cukup signifikan. Pada banyak kasus, pertumbuhan organisme budidaya meningkat, tingkat kelangsungan hidup menjadi lebih baik, dan efisiensi pakan mengalami perbaikan. Dampak ini menjadi sangat penting karena biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya usaha budidaya.
Sebagai contoh, suatu kawasan budidaya udang yang memproduksi 1.000 ton per tahun memerlukan sekitar 1.500 ton pakan, apabila nilai Feed Conversion Ratio (FCR) berada pada angka 1,5. Dengan harga pakan sekitar Rp 18 juta per ton, biaya pakan dapat mencapai Rp 27 miliar per tahun.
Apabila teknologi probiotik berbasis fermentasi beras mampu meningkatkan efisiensi pakan hingga 8 persen, maka potensi penghematan dapat mencapai lebih dari Rp 2 miliar setiap tahun. Angka tersebut belum memasukkan tambahan keuntungan yang berasal dari peningkatan produksi dan penurunan tingkat kematian.
Pengalaman Korea
Selain aspek ekonomi, manfaat lingkungan juga tidak kalah penting. Mikroorganisme hasil fermentasi dapat membantu mempercepat dekomposisi bahan organik di kolam atau tambak, mengurangi akumulasi senyawa beracun seperti amonia dan nitrit, serta menekan dominasi bakteri patogen. Kondisi ini berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan budidaya yang lebih stabil dan sehat, sehingga ketergantungan terhadap antibiotik maupun bahan kimia dapat dikurangi.
Pengalaman Korea Selatan melalui berbagai program penelitian yang dikembangkan oleh Rural Development Administration menunjukkan bahwa beras tidak hanya berfungsi sebagai komoditas pangan, tetapi juga dapat menjadi fondasi pengembangan industri bioteknologi modern. Pendekatan ini sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki basis produksi padi jauh lebih besar dan tersebar luas.
Bagi Wamti sebagai asosiasi petani dan nelayan, pengembangan probiotik berbasis fermentasi beras bukan semata-mata agenda teknologi. Inisiatif ini dapat menjadi bagian dari upaya membangun keterkaitan yang lebih kuat antara sektor pertanian, perikanan, rehabilitasi ekosistem pesisir, dan ekonomi biru. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia secara berkelanjutan, Indonesia berpeluang menciptakan model bioekonomi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani/pembudidaya, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, fermentasi berbasis beras seharusnya tidak lagi dipandang sebagai teknologi pendukung semata. Di masa depan, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu fondasi penting bagi transformasi akuakultur Indonesia menuju sistem produksi yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, teknologi ini membuka peluang lahirnya industri bio-input nasional berbasis sumber daya lokal dengan potensi pasar mencapai triliunan rupiah per tahun. Ini juga sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi biru dunia.
Tangerang Selatan, 9 Juni 2026
*Daftar Pustaka
1.Food and Agriculture Organization (FAO). 2024. The State of World Fisheries and Aquaculture 2024: Blue Transformation in Action. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
2.Hai, N.V. 2015. “The Use of Probiotics in Aquaculture.” Journal of Applied Microbiology, 119(4): 917–935. https://doi.org/10.1111/jam.12886
3.Hoseinifar, S.H., Sun, Y.Z., Wang, A., & Zhou, Z. 2018. “Probiotics as Means of Diseases Control in Aquaculture: A Review of Current Knowledge and Future Perspectives.” Frontiers in Microbiology, 9:2429.
4.Dawood, M.A.O., Koshio, S., Abdel-Daim, M.M., & Van Doan, H. 2019. “Probiotic Application for Sustainable Aquaculture.” Reviews in Aquaculture, 11(3): 907–924.
5.Rural Development Administration (RDA), Republic of Korea. 2020–2024. Research Programs on Rice-Based Fermentation Technology, Effective Microorganisms, and Sustainable Aquaculture Systems. Jeonju, Republic of Korea.
