Teguh Anantawikrama. Foto: Dolumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
(CATATAN TENTANG PASAR, HILIRISASI, DAN KETAHANAN NASIONAL)
Oleh: Teguh Anantawikrama,
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia
UKMDANBURSA.COM – Beberapa minggu terakhir Indonesia melewati ujian yang sangat serius. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat jatuh tajam. Rupiah menembus level psikologis yang menyakitkan, terpuruk sepanjang sejarah.
Investor asing keluar dari pasar saham dan obligasi. Media internasional menyorot Indonesia dengan nada keras. Lembaga pemeringkat mulai memberi peringatan. Narasi “Sell Indonesia” pun beredar cepat dari terminal Bloomberg sampai grup WhatsApp investor.
Sebagian orang langsung menyimpulkan: Indonesia sedang menuju jurang. Tetapi data berkata lain.
Artikel pilihan:
Cahaya di Ujung Lorong: DSI Pengawas, Jangan Pemotong Angsa Bertelur Emas

Mengubah Permainan
Indonesia memang sedang tertekan. Tetapi Indonesia tidak runtuh.
Justru dalam tekanan itu kita melihat sesuatu yang lebih besar: ketahanan nasional ekonomi Indonesia.
Artikel pilihan:
Uang MBG Bocor, Rupiah Kian Anjlok
Penulis melihat, akar persoalannya bukan sekadar IHSG dan rupiah. Hal ini juga terkait langkah Indonesia yang sedang mengubah permainan. RI sedang mengubah posisinya dalam rantai nilai global.
Selama puluhan tahun kita menjual bahan mentah. Nikel keluar sebagai bijih, bauksit diekspor sebagai bahan dasar, batu bara, sawit, tembaga, dan berbagai mineral lain—semuanya terlalu lama memberi nilai tambah terbesar kepada pihak lain.
Sekarang arah itu berubah. Indonesia tidak ingin selamanya menjadi halaman belakang industri dunia. Indonesia ingin menjadi pusat pengolahan, manufaktur, baterai, kendaraan listrik, pangan, energi, hingga industri strategis.
Inilah inti hilirisasi. Dan setiap negara yang mencoba naik kelas selalu menghadapi resistensi.
Jepang mengalaminya. Korea Selatan mengalaminya. China mengalaminya. Sekarang Indonesia mengalaminya.
Data Hilirisasi Bukan Retorika
Hilirisasi bukan slogan kosong. Dalam nikel, Indonesia telah menjadi pemain paling penting di dunia.
Pangsa produksi nikel Indonesia naik dari sekitar 31,5 persen produksi global pada 2020 menjadi sekitar 60 persen pada 2024. Artinya, lebih dari separuh produksi nikel dunia kini terkait Indonesia.
Pada 2025, kapasitas smelter nikel Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2,5 juta ton nikel per tahun, dengan lebih dari 50 smelter beroperasi.
Ekspor produk olahan nikel juga melonjak sangat besar. Beberapa studi mencatat nilai ekspor nikel olahan Indonesia naik dari sekitar US$ 1,5 miliar pada 2014 menjadi sekitar US$ 38,5 miliar pada 2025.
Ini bukan sekadar ekspor. Ini adalah perubahan struktur ekonomi.
Dulu Indonesia menjual tanahnya. Sekarang Indonesia mulai menjual hasil industrinya.
Pemain Lama Terganggu
Maka tekanan ke Indonesia tidak aneh terjadi. Ketika sebuah negara mengubah posisi dari eksportir bahan mentah menjadi pemilik nilai tambah, pasti ada pihak yang terganggu.
Trader terganggu. Hub komoditas terganggu. Pemain lama terganggu. Rantai pasok lama terganggu. Karena itu tekanan terhadap Indonesia harus dibaca sebagai bagian dari kompetisi ekonomi global.
Bukan berarti semua kritik adalah serangan. Kritik tetap perlu didengar. Pemerintah tetap harus dikoreksi. Fiskal harus disiplin. Tata kelola Danantara, Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi desa, subsidi energi, dan belanja negara harus transparan.
Tetapi kita juga tidak boleh naif. Kita jangan lupa, dalam ekonomi global, narasi adalah senjata.
Dan negara yang kaya sumber daya, besar pasarnya, serta mulai berani mengatur rumahnya sendiri, pasti akan diuji.
Tekanan Pasar Nyata
Data pasar menunjukkan tekanan itu memang serius. Investor asing dilaporkan melepas sekitar US$ 3,9 miliar saham Indonesia sepanjang 2026. Ini disebut sebagai arus keluar terbesar sejak 1996.
IHSG sempat turun sekitar 32 persen dari awal tahun. Rupiah sempat mendekati bahkan menembus level terlemah historis terhadap dolar AS. Obligasi ikut tertekan.
Pasar membaca kombinasi beberapa hal. Ini mulai dari kekhawatiran fiskal, subsidi energi, belanja sosial besar, peran negara makin meningkat, penyimpangan program, hingga risiko perubahan kebijakan yang dianggap terlalu cepat.
Jadi, kita tidak boleh meremehkan kekhawatiran pasar. Tetapi, kekhawatiran pasar juga bukan berarti Indonesia bangkrut.
Fundamental Tak Sama dengan 1998
Perbandingan dengan krismon 1998 pun sering muncul. Tapi, itu perbandingan yang terlalu mudah dan kurang akurat.
Pada 1998, cadangan devisa Indonesia lemah. Sistem perbankan rapuh. Utang luar negeri swasta besar. Nilai tukar tidak fleksibel. Kepercayaan terhadap sistem keuangan runtuh.
Hari ini berbeda. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen year-on-year. World Bank masih memproyeksikan pertumbuhan Indonesia sekitar 5 persen pada 2026, meskipun memberi catatan soal tekanan fiskal.
Cadangan devisa Indonesia pada Januari 2026 berada di sekitar US$ 154,6 miliar, setara sekitar 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Defisit fiskal 2026 diproyeksikan sekitar 2,68 persen PDB, masih di bawah batas 3 persen. Utang pemerintah terhadap PDB masih jauh lebih rendah dibanding banyak negara maju.
Inflasi juga masih relatif terkendali. Sistem perbankan jauh lebih kuat dibanding era krisis Asia. Jadi, narasi bahwa Indonesia berada di ambang kehancuran tidak sejalan dengan fondasi makro yang ada.
Indonesia sedang tertekan, benar. Tetapi Indonesia bukan sedang kolaps.
Kekuatan Global South
Kita juga harus membaca posisi Indonesia secara lebih proporsional. Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN, yang memiliki lebih dari 280 juta penduduk.
Indonesia anggota G20, 20 negara/ekonomi terbesar di dunia. Indonesia kini masuk kekuatan baru negara berkembang BRICS.
Indonesia yang merupakan salah satu pemilik sumber daya mineral strategis terbesar dunia, berada di tengah persaingan Amerika Serikat, China, Eropa, dan Global South.
Indonesia bukan lagi negara kecil yang hanya mengikuti arus. Indonesia adalah arena, pasar besar, dan sumber bahan baku strategis. Dan semakin lama, Indonesia juga ingin menjadi pemain industri.
Di sinilah posisi non-aligned Indonesia menjadi penting. Kita tidak boleh menjadi satelit siapa pun.
Tidak boleh terlalu bergantung pada satu blok. Tidak boleh terlalu patuh pada satu mazhab ekonomi. Kita harus tetap bebas dan aktif, tetapi dengan kalkulasi ekonomi yang disiplin.
Kritik perlu, Jangan Kehilangan Kepercayaan
Di sisi lain, penulis percaya kritik itu penting. Akademisi harus bebas bicara.
Investor boleh khawatir. Media boleh menguji kebijakan.
Tetapi Indonesia juga harus punya daya tahan terhadap framing. Karena, sering kali yang menghancurkan bukan hanya data buruk, tetapi kepanikan kolektif yang dibangun dari potongan-potongan narasi.
Satu kalimat dipotong. Satu grafik disebar. Satu headline dibesar-besarkan.
Lalu, bangsa ini dipaksa percaya bahwa dirinya sedang gagal. Padahal data tidak berkata begitu.
Rebound: Koreksi terhadap Kepanikan
Ketika IHSG kembali menembus 6.000 lebih dan rupiah menguat dari titik terlemahnya, pasar sedang mengirim pesan penting. Pasar mulai membaca ulang Indonesia.
Bahwa Indonesia memang punya risiko. Tetapi Indonesia juga punya buffer.
Bahwa kebijakan pemerintah memang perlu disiplin. Tetapi, ekonomi Indonesia tidak rapuh seperti yang digambarkan.
Bahwa hilirisasi memang tidak mudah. Tetapi meninggalkan hilirisasi berarti kembali menjadi bangsa penjual bahan mentah. Dan itu bukan masa depan Indonesia.
Pelajaran terbesar dari periode ini sederhana. Pertama, Indonesia harus memperbaiki tata kelola.
Indonesia harus menjaga disiplin fiskal. Indonesia harus memastikan semua proyek strategis dihitung dengan cost-benefit yang serius.
Kedua, Indonesia harus menjaga independensi lembaga ekonomi. Indonesia harus transparan terhadap investor. Tetapi, Indonesia juga tidak boleh mundur dari agenda besar industrialisasi, hilirisasi, kemandirian energi, kemandirian pangan, dan penguatan posisi Global South.
Karena tidak ada negara besar yang lahir dari rasa takut. Tidak ada negara industri yang lahir dari kepatuhan mutlak kepada pasar. Dan, tidak ada bangsa berdaulat yang tumbuh hanya dengan menjual bahan mentahnya kepada dunia.
Indonesia mungkin terhuyung. Indonesia mungkin dikritik. Indonesia mungkin ditekan. Tetapi Indonesia tidak jatuh.
Karena, fondasi kita lebih kuat daripada narasi kepanikan yang dilemparkan kepada kita. Resilience is the new currency, dan Indonesia harus memperkuatnya. ***
