Foto: Owner Kutus Kutus Fazli Hasniel Sugiharto/Dokumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Fazli Hasniel Sugiharto,
Pengusaha Nasional
UKMDANBURSA.COM – Belakangan ini saya mendapat pertanyaan yang sama dari banyak orang mengenai Kutus Kutus, produk herbal warisan kearifan leluhur. “Apakah Kutus Kutus masih diproduksi seperti dulu?”
Saya memahami mengapa pertanyaan itu muncul. Di tengah perkembangan industri herbal yang semakin modern, masyarakat mulai terbiasa melihat segala sesuatu diproduksi secara cepat, otomatis, dan serba mesin.
Banyak orang mengira sebuah produk baru dianggap maju jika sudah masuk jalur pabrik, dan diproduksi dalam skala besar. Namun bagi saya, Kutus Kutus tidak pernah lahir dari cara berpikir seperti itu.
Artikel pilihan:
Bangkitkan UMKM, Penyangga Ketahanan Ekonomi

Tidak Terburu-buru
Kutus Kutus lahir dari dapur keluarga di suatu pulau Dewata di Tanah Air. Dari panci-panci besar yang mengepul pelan. Dari tangan yang sabar menimbang herbal satu per satu. Dari proses panjang yang tidak pernah terburu-buru. Dan sampai hari ini, cara itu masih kami pertahankan.
Saya sering mengatakan kepada orang-orang: kami masih memakai panci. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada sesuatu yang selama ini terus kami jaga: ketulusan dan kemurnian dalam proses, termasuk menjaga kebersamaan dengan seluruh karyawan.

Pesan Ibu Tetap Dipegang
Almarhumah ibu saya, Lilies Susanti Handayani, tidak pernah mengajarkan saya untuk membuat produk dengan tergesa-gesa. Beliau selalu percaya bahwa herbal bukan sekadar campuran bahan, melainkan tentang kesabaran, perhatian, ketulusan, rasa hormat terhadap alam, sambil terus membuka diri terhadap inovasi dan kemajuan.
Saya masih ingat salah satu pesan beliau yang terus membekas sampai sekarang. “Nak, kalau kamu terlalu cepat, yang keluar bukan obat, tapi air biasa.” Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.
Karena itulah hingga hari ini, 69 jenis herbal yang menjadi bagian dari Kutus Kutus masih diracik secara manual. Herbal-herbal itu masih ditimbang dengan tangan. Direbus perlahan menggunakan panci besar. Tidak sekadar melalui jalur mesin otomatis yang memproses semuanya dalam hitungan cepat produksi.
Artikel pilihan:
Impor Ilegal Merusak Industri Nasional, API Dukung Menkeu Lakukan Pemberantasan
Jaga Jiwa Kearifan di Tengah Modernisasi
Banyak pihak pernah menawarkan saya modernisasi produksi. Ada yang menawarkan investasi besar. Ada yang menyarankan agar produksi dialihkan sepenuhnya ke sistem pabrikan, supaya kapasitas meningkat drastis.
Saya menghargai semua tawaran itu. Saya tidak antiterhadap kemajuan. Saya juga memahami bahwa dunia terus berubah.
Namun saya percaya, tidak semua hal harus kehilangan jiwanya demi mengejar kecepatan. Bagi saya, Kutus Kutus bukan hanya produk. Ini adalah warisan keluarga, dan warisan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan secara hukum, tetapi yang dijaga nilai dan roh luhurnya.
Saya percaya masyarakat Indonesia sesungguhnya masih menghargai ketulusan proses dan kearifan lokal. Masih menghargai sesuatu yang dibuat dengan perhatian, dedikasi, dan loyalitas, bukan hanya dengan angka target produksi. Di tengah dunia yang bergerak cepat, mungkin justru banyak orang mulai merindukan sesuatu yang dibuat dengan kesabaran dan komitmen.
Karena itu saya selalu terbuka kepada siapa pun yang ingin melihat langsung proses produksi Kutus Kutus. Silakan datang ke dapur kami di Bali. Panci-panci besar itu masih ada. Herbal-herbal itu masih ditimbang satu per satu. Tangan-tangan yang meracik masih bekerja dengan cara yang sama bertanggung jawab seperti dulu.
Melestarikan Filosofi Luhur
Saya tidak ingin masyarakat hanya mengenal Kutus Kutus sebagai sebuah merek, tapi juga perjalanan industri nasional yang terus berkembang. Saya ingin masyarakat memahami bahwa di balik setiap tetesnya, ada cerita tentang keluarga, tentang warisan, tentang kesabaran, dan tentang upaya menjaga amanah agar tidak kehilangan maknanya.
Di tengah derasnya arus industrialisasi, mungkin mempertahankan cara lama dianggap tidak efisien. Tetapi bagi saya, ada hal-hal yang nilainya tidak bisa dihitung hanya dengan angka produksi dan efisiensi.
Selama saya masih diberi kesempatan menjaga amanah ini, api di atas panci itu akan terus menyala, menjaga ketulusan dan makna warisan luhur Kutus Kutus. Terus berkembang, ikut memperkokoh jaringan rantai industri nasional dan keberlanjutan. ***
