Teguh Anantawikrama. Foto: Dolumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Teguh Anantawikrama,
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia
UKMDANBURSA.COM – Berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 menjadi tonggak awal kebangkitan nasionalisme dan persatuan bangsa Indonesia. Setelah berhasil merebut kemerdekaan, bangsa ini pun berkali-kali diuji krisis, namun sejarah membuktikan kita terus berdiri, sambung menyambung dari Sabang hingga Merauke. Kita bergandengan tangan di tengah keberagaman etnis, agama, ras, budaya, dan dinamika.
Dari krisis moneter 1998, krisis finansial global 2008, pandemi baru Covid-19, hingga gejolak geopolitik dan perang dagang dunia hari ini, Indonesia tegak berdiri. Tidak sempurna, tidak tanpa luka, tetapi selalu mampu bangkit lebih cepat dibanding banyak negara lain.
Artikel pilihan:
Hentikan Paradoks Fiskal Indonesia

Culture Pejuang dan UMKM
Pertanyaannya, mengapa Indonesia bisa begitu resilient di tengah guncangan global? Jawabannya bukan semata-mata karena cadangan devisa, kebijakan fiskal, atau intervensi moneter. Akar kekuatan Indonesia justru ada pada karakter rakyatnya: culture pejuang plus daya tahan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kita.
Bangsa ini dibangun oleh masyarakat yang terbiasa bertahan dalam keterbatasan. Ketika badai datang, rakyat Indonesia tidak menunggu keadaan membaik. Mereka bergerak, berdagang, berinovasi, dan saling menopang. Di situlah UMKM menjadi tulang punggung sekaligus bantalan penahan kejut ekonomi nasional.
Saat krisis 1998 menghantam Indonesia, ekonomi nasional terkontraksi hingga minus 13,1 persen dan inflasi melonjak drastis (en.wikipedia.org). Banyak perusahaan besar runtuh, sektor formal kolaps, dan perbankan terguncang. Namun di tengah kehancuran itu, UMKM justru menjadi penyelamat ekonomi rakyat.
Data menunjukkan bahwa pascakrisis 1997–1998, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat tajam, dari Rp 363,2 triliun menjadi Rp 552,9 triliun atau tumbuh lebih dari 52 persen. Nilai ekspor UMKM bahkan meningkat sekitar 76 persen (pajakku.com). Ketika konglomerasi bertumbangan akibat utang luar negeri dan tekanan kurs, UMKM tetap hidup karena bertumpu pada pasar domestik, gotong royong, dan fleksibilitas usaha rakyat.
Krisis global 2008 kembali membuktikan kekuatan fondasi ekonomi rakyat Indonesia. Ketika banyak negara masuk jurang resesi, Indonesia tetap tumbuh positif. Salah satu penyebabnya adalah kuatnya konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi rakyat yang terus berjalan (en.wikipedia.org). UMKM sekali lagi menjadi jangkar stabilitas nasional.
Lalu datang pandemi Covid-19, sebuah krisis yang berbeda. Bukan hanya krisis finansial, tetapi juga krisis kesehatan dan mobilitas manusia. UMKM memang terpukul sangat keras. Data Bank Indonesia menunjukkan 87,5 persen UMKM terdampak pandemi dan 93,2 persen mengalami penurunan penjualan (journal.unpar.ac.id). Namun sekali lagi, UMKM Indonesia menunjukkan mental pejuang.
Mereka beradaptasi. Dari offline menjadi online. Dari toko fisik menjadi digital commerce. Dari pasar tradisional masuk ke ekosistem platform digital dan fintech. Ketahanan itu bukan sekadar soal modal uang, tetapi modal budaya: semangat bertahan hidup dan keberanian memulai kembali.
Motor Utama Transformasi
Hari ini, UMKM Indonesia mencapai lebih dari 64 juta unit usaha, dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap PDB nasional serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja Indonesia (djkn.kemenkeu.go.id). Ini bukan angka kecil. Ini adalah fondasi republik.
Karena itu, masa depan Indonesia tidak boleh hanya dibangun oleh segelintir korporasi besar. Kebangkitan ekonomi Indonesia harus berbasis ekonomi kerakyatan modern. UMKM tidak boleh lagi dipandang sebagai sektor informal pelengkap, tetapi sebagai motor utama transformasi nasional.
Artikel pilihan:
Presiden Prabowo dan Investor Dikhianati Ketidakpastian Hukum, Siapa Bertanggung Jawab?
Kita membutuhkan ekosistem yang memungkinkan UMKM naik kelas melalui digitalisasi, akses pembiayaan, integrasi rantai pasok global, hilirisasi produk lokal, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Negara harus hadir bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menciptakan keberpihakan struktural.
Kita juga harus membangun narasi baru: bahwa UMKM bukan simbol ekonomi kecil, melainkan simbol ketahanan bangsa. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, perang dagang, fragmentasi geopolitik, dan ancaman resesi global, Indonesia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara lain: ekonomi rakyat yang hidup dan terus berkembang.
Selama culture pejuang tetap ada, selama UMKM tetap bergerak, Indonesia akan terus mampu melewati badai global apa pun. Sebab sejatinya, resilience Indonesia bukan hanya soal ekonomi. Resilience Indonesia adalah karakter bangsa! ***
