Teguh Anantawikrama. Foto: Dolumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Teguh Anantawikrama,
Wakil Ketua Kadin Indonesia
UKMDANBURSA.COM – Dunia sedang memasuki fase baru dalam geopolitik global. Jika pada abad ke-20 energi dan minyak menjadi penentu kekuatan ekonomi dan politik suatu negara, maka pada abad ke-21 pangan—terutama protein—akan menjadi salah satu faktor strategis yang menentukan stabilitas global.
Ketegangan geopolitik yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir membuat rantai pasok pangan dunia tidak lagi sepenuhnya stabil. Konflik geopolitik, perang regional, perubahan iklim, serta fragmentasi ekonomi global telah mengganggu sistem perdagangan pangan internasional.
Situasi itu diperparah oleh meningkatnya proteksionisme pangan di berbagai negara. Dalam kondisi seperti ini, negara-negara yang mampu memproduksi dan memasok protein dalam jumlah besar akan memiliki posisi strategis dalam percaturan global.
Artikel pilihan:
Booming Industri Herbal dan Ancaman Produk Tiruan

Permintaan protein dunia juga diperkirakan akan meningkat tajam hingga beberapa dekade mendatang. Pertumbuhan populasi global, meningkatnya kelas menengah di Asia dan Afrika, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan kebutuhan terhadap protein hewani dan nabati terus meningkat. Pada saat yang sama, banyak negara menghadapi keterbatasan lahan, air, dan sumber daya untuk meningkatkan produksi pangan mereka.
Peluang Strategis Indonesia
Indonesia sendiri memiliki karakteristik yang sangat unik dalam peta pangan dunia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai yang sangat panjang, Indonesia mempunyai potensi perikanan dan akuakultur yang luar biasa besar.
Produksi ikan nasional telah mencapai puluhan juta ton setiap tahun, menjadikan Indonesia salah satu produsen protein laut terbesar di dunia. Dengan pengelolaan yang lebih modern dan berkelanjutan, sektor ini dapat menjadi salah satu pilar utama RI dalam memasok protein global.
Selain itu, sektor unggas Indonesia berkembang sangat pesat. Industri ayam dan telur nasional memiliki skala yang besar dan didukung pasar domestik yang kuat. Indonesia juga telah menjadi salah satu produsen telur terbesar di dunia. Dengan penguatan standar produksi, efisiensi industri pakan, serta sertifikasi halal, Indonesia berpotensi menjadi pemasok protein unggas bagi negara-negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Artikel pilihan:
Cegah Pengulangan Kasus Jiwasraya dan Asabri, Jangan Kikis Kepercayaan di Pasar Modal
Ironi Protein Nabati
Tak hanya itu, Indonesia sebenarnya juga memiliki peluang besar dalam pengembangan protein nabati. Produk seperti tempe dan tahu telah lama menjadi bagian dari budaya pangan Indonesia.
Namun ironisnya, sebagian besar bahan baku kedelai dan tahu masih berasal dari impor, termasuk dari negeri adidaya Amerika Serikat. Padahal, Indonesia memiliki jutaan hektare lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Jika lahan-lahan tersebut dapat dioptimalkan untuk produksi kedelai, jagung, dan tanaman pakan ternak, maka kapasitas produksi protein nasional dapat meningkat secara signifikan.

Belajar dari Brasil
Dalam konteks geopolitik global, isu protein tidak dapat dipisahkan dari dinamika ketegangan internasional yang kemungkinan besar tidak akan mereda dalam waktu dekat. Rivalitas antara kekuatan besar dunia, fragmentasi rantai pasok global, serta meningkatnya kecenderungan negara-negara untuk mengamankan kebutuhan pangan mereka sendiri akan membentuk lanskap ekonomi internasional yang lebih kompleks.
Situasi ini sebenarnya membuka peluang bagi negara-negara yang memiliki sumber daya pangan yang besar. Negara seperti Brasil telah berhasil memanfaatkan posisi tersebut untuk menjadi salah satu pemasok utama protein dunia, dengan mengekspor daging sapi, ayam, hingga kedelai. Indonesia memiliki pula potensi memainkan peran serupa di kawasan Asia.
Dengan sumber daya laut yang luas, keanekaragaman hayati tropis, serta ketersediaan lahan pertanian yang masih dapat dikembangkan, Indonesia berpotensi besar menjadi salah satu pusat produksi protein global. Namun, potensi tersebut tidak akan terwujud tanpa strategi nasional yang jelas dan terintegrasi.
Perkuat Industri Pakan dan Riset Genetika
Pertama-tama, Indonesia perlu memperkuat industri pakan ternak nasional agar tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku. Kedua, modernisasi sektor pertanian dan perikanan harus dipercepat melalui pemanfaatan teknologi, riset genetika, dan digitalisasi sistem produksi. Ketiga, pembangunan infrastruktur logistik dan rantai dingin harus menjadi prioritas, agar produk protein Indonesia dapat bersaing di pasar internasional.

Lebih jauh, pengembangan sektor protein nasional juga harus dipandang sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi Indonesia. Negara-negara dengan populasi besar di Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika akan semakin bergantung pada impor pangan dalam beberapa dekade mendatang. Indonesia dapat memosisikan diri sebagai mitra strategis dalam menjamin pasokan protein bagi kawasan-kawasan tersebut.
Dengan kata lain, penguatan sektor protein nasional bukan hanya soal ketahanan pangan domestik, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia membangun posisi strategis dalam ekonomi global yang semakin tidak pasti. Jika energi menjadi simbol kekuatan geopolitik pada abad lalu, maka protein dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi baru pada abad ini.
Indonesia memiliki semua prasyarat untuk memanfaatkan peluang tersebut. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu menjadi kekuatan protein dunia, tetapi apakah kita memiliki keberanian dan kejelasan visi dan konsistensi kebijakan untuk mewujudkannya. ***
