Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi (paling kiri), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (ketiga dari kanan), Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kedua dari kanan), serta Deputi Gubernur BI Thomas AM Djiwandono (kedua dari kiri) dalam suatu acara nasional di Jakarta. Foto: Koento Wibisono/ukmdanbursa.com.
Oleh Destry Damayanti,
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
UKMDANBURSA.COM – Nilai tukar rupiah sempat menukik dalam hingga tembus Rp 17.300/US$ lebih pada perdagangan di pasar spot valas menjelang akhir pekan, Jumat (24/4/2026). Tekanan pada mata uang Garuda yang terjadi sejak pagi tadi lebih banyak disebabkan meningkatnya ketidakpastian global, sehingga mata uang regional mengalami tekanan yang sama.
Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik, di tengah berlanjutnya dampak perang Timur Tengah.
Artikel pilihan:
Konflik Iran dan Antisipasi Rupiah Berdarah, Menuju Berapa Merujuk Sejarah?
Berkesinambungan dan Konsisten
Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan BI secara konsisten. Ini ditempuh melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) RI di pasar sekunder.
Artikel pilihan:
The Need for Unfiltered Input and the Courage to Face Bitter Truths

BI menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara year to date (ytd) melemah 3,54%. Cadangan devisa RI juga tetap terjaga di level USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. ***
