Ilustrasi mobil listrik. Image: Freepik.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Per Oktober 2025, pembiayaan mobil listrik oleh industri multifinance tumbuh 2,70% month to month (mtm) menjadi Rp 17,64 triliun, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan. Sementara itu, total pembiayaan kendaraan baru oleh industri multifinance per Oktober 2025 terkontraksi 3,64% year on year (yoy) menjadi Rp 230,36 triliun.
“Pertumbuhan pembiayaan mobil listrik itu didorong oleh meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan. Prospek pembiayaan mobil listrik pada 2026 diperkirakan tetap positif, seiring tren elektrifikasi kendaraan, dukungan kebijakan terkait lingkungan, serta bertambahnya pilihan merek kendaraan listrik di pasar (Indonesia),” kata Kepala Eksekutif Pengawasan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman, dalam keterangan di Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Berita pilihan:
Mendobrak Elitisme, Mampukah OJK Memanfaatkan AI untuk Mendemokratisasi Akses Pembiayaan Ekuitas?

Penjualan Mobil Anjlok
Agusman menjelaskan, secara umum, pembiayaan kendaraan baru oleh industri multifinance per Oktober 2025 terkontraksi 3,64% yoy sejalan dengan lesunya penjualan mobil di Tanah Air. “Penurunan ini sejalan dengan revisi penjualan kendaraan baru oleh Gaikindo dan perlambatan pasar otomotif, yang menekan pembiayaan kendaraan baru hingga akhir tahun ini,” ujarnya.
Berdasarkan data Gaikindo, industri otomotif di Indonesia masih menghadapi tantangan struktural. Hingga Oktober 2025, whole sales mobil turun 10,6 persen year on year. Penjualan retail turun 9,6 yoy, yang menandakan tekanan daya beli di segmen menengah ke atas. Tekanan suku bunga yang masih tinggi, biaya kredit kendaraan yang mahal, dan inflasi biaya hidup telah menahan minat pembelian mobil baru.
Mengenai proyeksi pembiayaan kendaraan tahun depan, Agusman memperkirakan mengikuti dinamika pasar otomotif. Ada peluang pertumbuhan, terutama dari segmen kendaraan listrik dan inovasi produk pembiayaan.
“Perlambatan pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance tahun ini antara lain dipengaruhi oleh dinamika perekonomian, termasuk penurunan penjualan kendaraan. Namun, industri multifinance diperkirakan tetap tumbuh positif pada tahun 2026, dengan adanya peluang untuk melakukan ekspansi, meskipun dihadapkan berbagai tantangan. Segmen pembiayaan yang potensial untuk dioptimalkan antara lain pembiayaan modal kerja yang terus menunjukkan pertumbuhan yang positif,” tuturnya.
Artikel pilihan:
Putting “Indonesia Incorporated” into Action: Driving Synergy for Speed and Sustainability
Marak Penjualan Mobil Tanpa BPKB
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyoroti maraknya jual beli kendaraan hanya menggunakan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), tanpa Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Hal ini berisiko menimbulkan sengketa kepemilikan dan risiko kredit bagi perusahaan multifinance.
“Fenomena ini antara lain dipicu oleh harga yang lebih murah, kemudahan transaksi, dan kurangnya edukasi konsumen. Jadi, perusahaan multifinance perlu tetap menerapkan prinsip kehati-hatian, memverifikasi dokumen secara memadai, menjadikan BPKB sebagai agunan, serta meningkatkan edukasi publik agar transaksi kendaraan dilakukan melalui jalur resmi dengan dokumen lengkap,” tandas Agusman.
