Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia dan Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga DPN Apindo. Foto: Dokumentasi pribadi.
Oleh Sarman Simanjorang,
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah dan
Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Apindo
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 akan menentukan apakah realisasi pertumbuhan tahun ini mencapai target pemerintah di kisaran 5,2% (year on year). Sampai kuartal III, pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,01%, artinya pertumbuhan kuartal IV diharapkan 5% lebih agar aman.
Salah satu momentum yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal IV ini adalah libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Momentum Nataru sangat penting untuk dioptimalkan.
Artikel pilihan:
Putting “Indonesia Incorporated” into Action: Driving Synergy for Speed and Sustainability

Dipicu Stimulus
Survey Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan menyebut, jumlah pemudik libur Natal dan Tahun baru 2025/2026 diperkirakan mencapai 119,5 juta. Ini meningkat 2,71% dari tahun lalu, atau sekitar 42,01% dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan jumlah pemudik libur Nataru meningkat, diproyeksikan perputaran uang mencapai Rp 107,562 triliun.
Adapun dasar perhitungannya adalah jumlah 119,5 juta tersebut setara dengan 29.875.000 keluarga, dengan asumsi rata-rata per keluarga 4 orang. Jika per keluarga membawa bekal uang rata-rata Rp 3,6 juta, maka potensi perputaran uang menembus Rp 107.550 triliun. Ini dengan mengambil angka yang moderat, dana dibawa naik 10% dari tahun lalu yang rata-rata Rp 3,3 juta/keluarga.
Jumlah pemudik ini di luar perkiraan kami, karena semula diprediksi tidak sebesar itu mengingat dalam dua bulan ke depan kita sudah memasuki bulan puasa, di mana masyarakat sudah persiapan untuk mudik Idulfitri 2026. Waktu harga raya akbar yang berdekatan ini, biasanya, masyarakat berpotensi tidak melakukan perjalanan mudik libur Nataru.
Ternyata tahun ini di luar dugaan. Masyarakat antusias melakukan mudik libur Nataru, baik untuk merayakan Natal maupun liburan akhir tahun.
Gairah tersebut dipicu oleh stimulus yang diberikan pemerintah, dengan upaya terpadu untuk mereduksi beban biaya perjalanan masyarakat yang biasanya meningkat tajam menjelang akhir tahun. Stimulus yang menjadi daya tarik tersebut seperti tarif diskon tol 10-20% ruas jalan tol di Jabodetabek, Trans Jawa, dan non-Jawa seperti Trans Sumatera.
Kemudian, diskon harga tiket seluruh moda transportasi darat, laut, dan udara. PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan diskon sebesar 30 persen untuk kelas ekonomi, sedangkan PELNI menyediakan potongan sekitar 20 persen untuk tiket kapal laut. Adapun PT ASDP memberikan keringanan tarif jasa kepelabuhanan rata-rata potongan sekitar 19 persen pada lintasan-lintasan prioritas.
Sedangkan angkutan udara, pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP). Selain itu, berbagai maskapai penerbangan menerapkan penurunan tarif angkutan udara rata-rata 13 – 14 persen khusus tiket kelas ekonomi.
Artikel pilihan:
Mendobrak Elitisme, Mampukah OJK Memanfaatkan AI untuk Mendemokratisasi Akses Pembiayaan Ekuitas?

Sektor Penggaet Cuan
Berbagai sektor usaha akan lebih produktif dan cuan selama libur Nataru. Ini antara lain pusat perbelanjaan atau mall, grosir, jasa parcel natal, toko kue, hotel, motel, villa, apartemen, restoran, café, pusat kuliner, perajin oleh-oleh khas daerah, aneka produk UMKM, minimarket, dan pedagang mikro yang tersebar di berbagai objek wisata.
Skala industri food and beverage dan untuk kebutuhan Natal dan Tahun baru meningkat, khususnya produsen fashion/batik/kain khas daerah, makanan dan minuman seperti kue, roti, snack, daging, dan sosis, serta minuman seperti sirop, soft drink dan minuman beralkohol. Juga, sektor logistik dan transportasi travel hingga jasa penyewaan mobil/rental panen cuan.
Persiapan BI hingga Pemda
Untuk kebutuhan uang tunai, Bank Indonesia (BI) dan pihak perbankan tentunya diharapkan memastikan ketersediaan dalam berbagai pecahan uang rupiah, baik melalui ATM maupun pengambilan langsung untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Perputaran uang selama libur Nataru akan tersebar terutama di daerah yang banyak penduduknya merayakan Natal, seperti Papua, Maluku, Sulut, Kalbar, Sumut dan berbagai kabupaten di Indonesia, serta daerah tujuan wisata favorit seperti Bali, Yogyakarta, Malang, Bandung, dan Bogor.
Diharapkan koordinasi lintaslembaga dan kementerian terkait semakin maksimal untuk persiapan liburan Nataru, sehingga nantinya kesiapan dari sisi infrastruktur, pengaturan lalu lintas, keamanan dan kenyamanan, serta kelancaran dapat dirasakan oleh para pemudik. Ini termasuk kesiapan pemerintah daerah agar dapat melakukan langkah-langkah antisipasi menyambut para pemudik yang pulang kampung maupun yang berlibur.
Pemda perlu juga mengimbau para pengelola destinasi wisata, hotel, pengelola parkir, kuliner UMKM makanan dan souvenir khas daerah tidak menaikkan harga atau tarif berlebihan. Jaminan ini penting, agar para pemudik tidak ragu menghabiskan uang.
Semoga liburan Nataru ini mampu menggerakkan ekonomi di berbagai daerah. Artinya, memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal IV yang ditargetkan di kisaran 5,00-5,04%, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 bisa bertahan di angka 5% atau lebih. ***
.

1 thought on “Di Luar Dugaan, Rp 107 Triliun Berputar di Libur Nataru”