Tri Winarno. Foto: Istimewa.
Oleh TRI WINARNO,
mantan ekonom senior BI
UKMDANBURSA.COM – Sejak “Hari Pembebasan” Donald Trump pada 2 April, ketika ia mengumumkan tarif perdagangan yang luas terhadap kawan maupun lawan, pandangan umum tentang prospek ekonomi Amerika Serikat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang cenderung pesimistis. Tarif yang lebih tinggi akan menyebabkan resesi di AS dan global; keistimewaan AS telah berakhir; defisit fiskal dan neraca berjalan Amerika menjadi tidak berkelanjutan; plus status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia segera berakhir dan melemah tajam seiring waktu.
Tentu saja, beberapa kebijakan yang diumumkan Trump membenarkan pesimisme tersebut. Tarif, proteksionisme, dan perang dagang kemungkinan akan bersifat stagflasi (menyebabkan inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan lebih rendah). Begitu pula pembatasan migrasi yang ketat, deportasi massal pekerja tanpa dokumen, defisit fiskal besar yang tidak didanai, dan upaya untuk mengganggu independensi Federal Reserve AS.
Perekonomian AS juga tidak akan terlayani dengan baik oleh Perjanjian Mar-a-Lago, yang dapat melemahkan dolar, yang dapat merusak supremasi hukum di dalam dan luar negeri. Demikian pula, pembatasan yang lebih ketat terhadap talenta asing – ilmuwan dan pelajar – yang datang ke Amerika Serikat.
Berita terkait:
Ekonomi Indonesia Triwulan II Tumbuh Kuat 5,12%, Apa Pendorong dan Siapa Pemberatnya?
Pertumbuhan AS Naik?
Meski demikian, saya tetap berpendapat (sejak musim dingin lalu) bahwa ekonomi AS akan baik-baik saja – bukan karena kebijakan Trump, tetapi terlepas dari kebijakan tersebut. Sebagai permulaan, saya memperkirakan kombinasi disiplin pasar, penasihat Trump yang lebih bijaksana, dan independensi The Fed akan menang, dan itulah yang terjadi.
Trump secara konsisten bersikap pengecut. Ia mengejar kesepakatan perdagangan, alih-alih menindaklanjuti tarif “Hari Pembebasan”.
Trump mungkin bersikap “TALO” (Trump Always Lashes Out/Trump Selalu Menyerang), tetapi para pengamat obligasi dan pasar keuangan telah mendorongnya ke mode TACO (Trump Always Chickens Out /Trump Selalu Pengecut). Seiring kebijakan ekonominya yang paling merusak mengambil bentuk yang lebih ringan, ekonomi AS masih akan mengalami sedikit tekanan.

Tetapi, skenario akhir tahun yang mungkin terjadi adalah resesi pertumbuhan (artinya pertumbuhan di bawah potensi). Jadi, bukan resesi total (biasanya didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut pertumbuhan negatif).
Kedua, karena dampak positif teknologi akan selalu mengalahkan dampak negatif tarif, era keistimewaan ekonomi AS belum berakhir. AS berada di depan semua negara – termasuk Tiongkok – dalam sebagian besar inovasi revolusioner yang akan menentukan masa depan.
Dengan demikian, potensi pertumbuhan tahunannya kemungkinan akan meningkat dari 2% menjadi 4% pada akhir dekade ini, sebelum meningkat jauh lebih tinggi pada tahun 2030-an. Ini misalkan, teknologi baru meningkatkan potensi pertumbuhannya sebesar 200 basis poin, sementara perdagangan dan kebijakan buruk lainnya menguranginya sebesar 50 basis poin.
Artinya, Amerika akan tetap luar biasa. Sektor swasta Amerika yang unik dan dinamis, bukan kebijakan Trump, yang akan menentukan prospek pertumbuhan di masa depan.
Ketiga, jika potensi pertumbuhan memang meningkat menuju 4% seiring waktu, utang publik dan eksternal AS sebagai bagian dari produk domestik bruto (PDB) akan terbukti berkelanjutan, stabil, dan kemudian menurun seiring waktu (kecuali jika terjadi kecerobohan fiskal yang lebih besar). Meskipun Kantor Anggaran Kongres memproyeksikan peningkatan rasio utang publik terhadap PDB, hal itu karena diasumsikanpotensi pertumbuhan AS akan mencapai puncaknya pada 1,8%.
Keempat, selama keistimewaan ekonomi Amerika masih berlaku, “hak istimewa yang luar biasa” yang diberikan oleh dominasi global dolar kemungkinan besar tidak akan terkikis. Kendati tarif impor lebih tinggi, defisit eksternal AS kemungkinan akan tetap tinggi, karena investasi sebagai bagian dari PDB akan meningkat seiring dengan ledakan ekonomi sekuler yang didorong oleh teknologi, sementara tingkat tabungan tetap relatif stabil.
Peningkatan defisit transaksi berjalan yang diakibatkannya akan dibiayai oleh arus masuk ekuitas. Ini baik investasi portofolio maupun investasi langsung asing.
Posisi Dolar
Dalam konteks ini, peran dolar sebagai mata uang cadangan global kemungkinan besar tidak akan tertantang secara signifikan, meskipun terdapat sedikit diversifikasi dari aset-aset berdenominasi dolar. Demikian pula, arus masuk struktural tersebut akan membatasi risiko penurunan nilai tukar, dan bahkan dapat memperkuat dolar dalam jangka menengah.

Singkatnya, AS kemungkinan besar akan berkinerja baik selama sisa dekade ini, bukan berkat Trump, tapi sekali lagi, terlepas darinya. Tidak diragukan banyak kebijakan Trump di periode kepresidenannya yang kedua berpotensi stagflasi, namun ekonomi terbesar dunia itu kebetulan berada di pusat beberapa inovasi teknologi terpenting dalam sejarah manusia.
Inovasi-inovasi ini akan menghasilkan guncangan penawaran agregat positif yang besar, yang bakal meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi inflasi seiring waktu. Dampak ini seharusnya jauh lebih besar daripada kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh kebijakan stagflasi.
Tentu saja, kita tidak boleh berpuas diri dengan kebijakan yang merusak, dampak negatifnya bisa serius. Namun, selama pasar dan para pegiat obligasi menjalankan tugasnya, impuls terburuk Trump akan terkendali.
Jadi sebenarnya adanya Trump tidak usah dikhawatirkan lagi. AS akan berjalan sebagaimana biasa, global juga akan merespon dengan positif.
Solo, 12 Augustus 2025

2 thoughts on “Peluang Ekonomi AS dan Dunia di Pusaran Trumponomics”