Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita saat menghadiri International Textile Manufacturers Federation (ITMF) Annual Conference & International Apparel Federation (IAF) World Fashion Convention 2025, di Yogyakarta, Jumat (24/10/2025). Foto: API/ukmdanbursa.com.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kapasitas ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) meningkat menjadi USD 8,07 miliar pada Januari-Agustus 2025. Pertumbuhan industri strategis di Indonesia ini semakin positif, pada akhir triwulan IV 2024 hingga kuartal II 2025 mencapai 5,39%.
“Pertumbuhan industri TPT Q4 2024 – Q2 2025 sebesar 5,39%. Kontribusi pada GDP (produk domestik bruto) mencapai 0,98%, dengan melibatkan 3,76 juta pekerja, yang artinya sebesar 19,18% dari total pekerja manufaktur,” kata Agus dalam keterangan usai memberikan sambutan dalam International Textile Manufacturers Federation (ITMF) Annual Conference & International Apparel Federation (IAF) World Fashion Convention 2025, di Yogyakarta, Jumat (24/10/2025). Acara akan berlangsung hingga 25 Oktober besok.
Acara internasional ini dihadiri oleh sekitar 400 delegasi dari berbagai negara. Delegasi terdiri
dari para petinggi asosiasi tekstil dan fashion internasional, produsen, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kebijakan global.

Sumber: textiletoday/BPS/ukmdanbursa.com.
Artikel pilihan:
Bunga Pinjaman Cina 20-34 Kali Jepang, Proyek Kereta Cepat Terindikasi Mark Up dan Dikorupsi?
Prabowo: Industri TPT Strategis
Agus juga menyampaikan amanat Presiden Prabowo Subianto bahwa industri TPT adalah industri padat karya yang menjadi bagian dari kepentingan strategis nasional. Industri ini perlu diperkuat demi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja sebagaimana visi Presiden Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Menteri Perindustrian juga menyampaikan terima kasih kepada para tamu bisnis domestik dan mancanegara yang hadir pada acara konferensi international tersebut. “Sebagai Menteri Perindustrian, saya memberikan apresiasi kepada organisasi kelas dunia, ITMF dan IAF serta API yang telah menunjukkan kolaborasi positif antarnegara di sektor tekstil dan produk tekstil. Acara di Yogyakarta ini musti menjadi momentum kebangkitan tekstil dan fashion Indonesia untuk dunia,” tegasnya.
Artikel pilihan:
Laba BBCA Menggunung di Tengah Tekanan Harga Saham Ytd, Ini POV Analis
Industri tekstil dan garmen harus mampu menjadi pelopor tehnologi modern untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, serta mampu melindungi dunia usaha dan tenaga kerjanya. Industri tekstil dan fashion saat ini juga dituntut untuk mampu membantu menciptakan green planet demi lingkungan hidup yang semakin baik.
“Karena, green industry sektor tekstil dan fashion juga menunjukkan kualitas kehidupan negara,”
tandas Menteri Agus.
Regulasi Anyar
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jemmy Kartiwa menyampaikan, API sebagai penyelenggara international conference tersebut menyatakan komitmen sinergi dengan pemerintah dengan berbagai regulasi anyar, yang bertujuan menjaga keberlangsungan industri tekstil dan garmen di Tanah Air. “Konferensi ini merupakan momentum penting para pemangku kepentingan industri tekstil dan fashion seluruh dunia, saling kolaborasi, unjuk inovasi dan teknologi di tengah ketidakpastian global dan sinergitas kebijakan pemerintah.
Kita bisa berbagi pengetahuan dan inovasi, membangun kemitraan lintasnegara, serta mengembangkan keterampilan baru yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan. Menavigasi ketidakpastian dan
mengadopsi jalur teknologi bukan hanya keharusan, tetapi juga peluang besar untuk membangun masa depan industri tekstil dan garmen yang lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan,” tuturnya.
Jemmy juga menyatakan apresiasi kepada Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan, yang saat ini sedang berjuang melahirkan regulasi-regulasi yang bertujuan melindungi kepentingan industri padat karya, seperti di sektor TPT domestik. Dengan kuatnya perlindungan kebijakan pemerintah, maka positioning industri Indonesia akan semakin kuat menghadapi persaingan global yang penuh tantangan perubahan rantai pasok dan perdagangan dunia.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum API sekaligus anggota Dewan ITMF Michelle Tjokrosaputro menekankan pentingnya menyatukan nilai budaya dan kearifan lokal dalam pengembangan industri tekstil modern. “Perhelatan ini adalah wadah kolaborasi global yang mempertemukan nilai budaya, inovasi, dan keberlanjutan. Indonesia adalah bagian penting dari siklus mata rantai tekstil dan produk tekstil dunia, yang turut membentuk masa depan industri tekstil global,” bebernya.
Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan internasional conference ITMF dan IAF, lanjutnya, karena keunikan sebagai kota pusat pendidikan dan kreativitas, dengan warisan budaya yang kental dengan tekstil dan fashion nasional. Yogyakarta dikenal memiliki kekayaan seni dan kerajinan yang berpadu dengan inovasi, menjadikannya simbol pertemuan antara tradisi dan teknologi dalam industri kreatif modern sektor tekstil dan garmen.
Konferensi internasional ITMF dan IAF tersebut mengangkat tema “Navigating Uncertainty and Adopting Technology Pathways to Sustainable Strength in the Textile and Apparel Industry”. Acara ini menghadirkan sekitar 20 pembicara ahli internasional yang membahas topik strategis seperti decarbonization, sustainability, inovasi
teknologi, serta masa depan serat dan kapas. Selain itu, memastikan industri tekstil dan fashion global mampu bertransformasi secara berkelanjutan di tengah kemajuan teknologi dan tantangan tenaga kerja.
