Foto: Owner Kutus Kutus Fazli Hasniel Sugiharto/Dokumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Fazli Hasniel Sugiharto,
Owner Kutus Kutus
UKMDANBURSA.COM – Minat masyarakat Indonesia terhadap produk herbal terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pergeseran gaya hidup ke arah yang lebih alami, meningkatnya kesadaran akan kesehatan preventif, serta keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah menjadi faktor pendorong kian berkembangnya pasar herbal domestik.
Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan peracikan herbal dan kini meneruskan warisan nilai dari almarhumah ibu saya – Lilies Susanti Handayani –, saya melihat pertumbuhan ini dengan dua perasaan yang berjalan bersamaan: harapan dan tanggung jawab.
Artikel menarik:
Wonderful Indonesia Gourmet: Turning Taste into a Pillar of National Resilience

Perlu Peningkatan Literasi
Meningkatnya minat terhadap produk herbal tentu saja membuka peluang besar bagi industri lokal. Data statistik kesehatan juga konsisten menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka menggunakan produk kesehatan nonmedis, terutama sebagai bagian dari perawatan sehari-hari.
Namun, keterbukaan itu tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang memadai mengenai fungsi, batasan, dan cara penggunaan produk herbal secara tepat. Kesenjangan inilah yang kerap menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Saya menyaksikan langsung tantangan mendasar rendahnya literasi konsumen terhadap produk herbal belum sepenuhnya terjawab. Persoalan tersebut menjadi tantangan kita bersama.
Penting Penggunaan Konsisten
Dalam pengalaman saya ikut membangun Minyak Herbal Kutus Kutus bersama Ibu, masih banyak konsumen yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, yang kerap disalahkan bukan pemahaman awalnya, melainkan produknya. Padahal, karakter produk herbal bersifat pendukung dan membutuhkan penggunaan yang konsisten, bukan solusi instan.
Artikel pilihan:
Pertumbuhan Ekonomi Bisa 5% Lebih, Simak Syaratnya
Sebagai penerus racikan herbal yang dibangun dari proses panjang dan kehati-hatian, saya melihat situasi ini menjadi refleksi penting. Rendahnya literasi konsumen membuat pasar berkembang secara tidak merata. Produk dengan klaim berlebihan sering kali lebih cepat menarik perhatian, sementara pelaku usaha yang memilih jalur edukasi justru harus bekerja lebih keras untuk membangun kepercayaan.
Kondisi tersebut bukan hanya merugikan konsumen, tetapi juga berisiko melemahkan industri herbal lokal secara keseluruhan. Konsumen berpotensi kecewa atau salah kaprah, sementara pelaku usaha yang berupaya menjaga standar yang baik dan kredibel harus menghadapi tantangan komunikasi yang tidak sederhana.
Itulah sebabnya, industri herbal yang sehat membutuhkan konsumen yang teredukasi. Tanpa literasi yang memadai, pasar akan terus didominasi oleh narasi instan yang tidak berkelanjutan. Dalam jangka panjang, pola tersebut justru menggerus kepercayaan publik terhadap seluruh industri.
Literasi konsumen ini bukan sekadar isu komunikasi, melainkan fondasi keberlangsungan industri. Keberhasilan produk herbal tidak semata ditentukan oleh popularitas, tetapi oleh pemahaman konsumen terhadap tujuan dan cara penggunaannya. Produk herbal seharusnya dipahami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan perawatan pendukung, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.
Kepercayaan publik menjadi aset paling berharga dalam industri herbal. Berbeda dengan produk medis yang memiliki jalur klaim dan pembuktian klinis yang ketat, produk herbal sangat bergantung pada kepercayaan terhadap produsen dan informasi yang disampaikan. Karena itu, pendekatan yang jujur dan edukatif bukan sekadar pilihan strategi, melainkan tanggung jawab moral dan pemupukan daya saing.
Dalam konteks ini, peran media dan regulator juga menjadi sangat penting. Pemberitaan yang proporsional dan tidak sensasional dapat membantu masyarakat memahami produk herbal secara lebih utuh. Sementara itu, penguatan pengawasan terhadap klaim produk dan transparansi informasi menjadi langkah krusial untuk melindungi konsumen sekaligus menjaga persaingan usaha yang sehat.
Sebagai penerus warisan racikan Minyak Herbal Kutus Kutus, saya belajar bahwa menjaga nilai jauh lebih menantang daripada sekadar menjaga produk. Edukasi membutuhkan waktu, konsistensi, kesabaran, dan integritas. Dampaknya mungkin tidak instan, tetapi kepercayaan yang dibangun secara perlahan plus terus berinovasi menjadi fondasi paling kokoh bagi keberlanjutan industri herbal nasional.
Pada akhirnya, masa depan industri herbal Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pasar yang mampu diraih, tetapi oleh seberapa dewasa konsumen dan pelaku usaha dalam memaknai dan menumbuhkembangkannya. Di sanalah warisan nilai leluhur menemukan relevansi di tengah tantangan industri modern dan gaya hidup instan. ***
