Gubernur Laka Lena menggandeng Bappenas, KKP, K-Utech, dan PT Garam untuk mengembangkan lahan dan industri garam di NTT . Foto: Pemprov NTT/ukmdanbursa.com.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Provinsi Nusa Tenggara Timur mencapai tonggak sejarah baru menjadi produsen garam nasional untuk mewujudkan swasembada garam. Pengembangan garam di NTT ini didukung penuh oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program ini masuk dalam proyek strategis nasional (PSN).
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengajak empat bupati meneken penandatanganan nota kesepahaman pengembangan lahan dan industri garam dengan K-Utech Salt Technology Germany dan PT Garam. Empat kepala daerah tersebut adalah Bupati Kupang Yosef Lede, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, Bupati Sabu Raijua Krisma Riwu Kore, dan Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Falentinus Desalle Kebo.
Artikel pilihan:
MBG Mulia bila Diintegrasikan dalam Industri Berorientasi Misi, Tutup Peluang Sabotase!
Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan, tonggak sejarah baru dalam upaya swasembada garam ini diharapkan mampu membawa dampak nyata bagi NTT. Pengembangan nilai tambah garam menjadi keharusan.
“Basisnya pada pengetahuan, teknologi, dan penelitian. Kita akan membangun Indonesia International Salt Institute untuk mendukung ini semua,” kata Pambudy dalam keterangan usai menyampaikan keynote speech di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Instruksi Presiden
Menurut Pambudy, gubernur NTT Melki Laka Lena sangat proaktif dan kooperatif untuk pengembangan industri garam. Hal ini sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk swasembada garam.
Optismisme juga datang dari Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono. Ia menyatakan, akhir 2027, Indonesia akan menghentikan impor garam.

Artikel pilihan:
Wonderful Indonesia Gourmet: Turning Taste into a Pillar of National Resilience
Di NTT, program pertama digarap di kabupaten Rote Ndao, dengan potensi lahan 13.000 hektare (ha). “Rote Ndao sangat potensial. Kita akan membangun pengembangan garam di sana dalam tiga tahap,” ujar Sakti.
Tahap pertama seluas 1.192,57 ha. Tahap kedua 9.541,10 ha. Tahap ketiga 3.135,13 ha.
Sakti mengungkapkan, KKP menargetkan tahun 2027, konsumsi garam 5,1 juta ton dengan kontribusi dari tambak dalam negeri 4 juta ton dan pabrik dalam negeri sekitar 1 juta ton. “Pada gilirannya, salah satu tujuannya adalah meningkatkan pendapatan pekerja dari warga setempat hingga 2,5 kali UMR (Upah Minimal Regional),” imbuhnya. (*)
