Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. Foto: Tangkapan layar YouTube BI.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Selama tiga minggu berturut-turut, dana asing makin deras mengalir keluar dan rupiah kembali bergejolak. Bank Indonesia menyampaikan perkembangan foreign capital flow tersebut dan sejumlah indikator stabilitas nilai rupiah yang lain pekan ini
“Kami sampaikan laporan berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini. Untuk aliran modal asing pada minggu IV Juli 2025, berdasarkan data transaksi 28 – 31 Juli, nonresiden tercatat jual neto Rp 16,24 triliun, terdiri dari jual neto Rp 2,27 triliun di pasar saham, Rp 1,37 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), dan Rp 12,60 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 1 Agustus 2025 malam.
Berdasarkan data transaksi minggu sebelumnya, dari 21 – 24 Juli, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 11,30 triliun. Ini terdiri dari beli neto Rp 0,10 triliun di pasar saham dan Rp 2,10 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), namun mencatatkan jual neto jumbo Rp 13,50 triliun di SRBI.
Berita terkait:
Surplus Neraca Perdagangan Turun ke US$ 4,1 Miliar, Inflasi Juli Naik Tembus 0,30%
Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 31 Juli 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp 58,69 triliun di pasar saham dan Rp 77,39 triliun di SRBI, Namun, masih mencatatkan beli neto Rp 59,07 triliun di pasar SBN.
Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang terbaru, pada perdagangan Jumat (1/8/2025) asing membukukan net sell Rp 73,66 miliar, di tengah rilis data surplus neraca perdagangan Indonesia Juni 2025 yang turun dibanding bulan sebelumnya. Hal ini menambah akumulasi penjualan saham oleh asing menjadi Rp 61,98 triliun atau US$ 3,76 miliar year to date.

Sedangkan premi CDS Indonesia 5 tahun per 31 Juli 2025 sebesar 71,40 bps. Ini naik dibanding dengan 25 Juli 2025 sebesar 69,94 bps. Credit Default Swap (CDS) adalah instrumen derivatif keuangan yang berfungsi sebagai asuransi terhadap risiko gagal bayar (default) surat utang.
Rupiah Kembali Tembus Rp 16.500/US$
BI juga menyampaikan perkembangan nilai tukar 28 Juli – 1 Agustus 2025. “Pada akhir hari Kamis, 31 Juli 2025, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.450 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun naik ke 6,56%. DXY (indeks dolar Amerika Serikat) menguat ke level 99,97. Sedangkan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke 4,374%,” ujar Denny.
Indeks dolar AS menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 1-10 tahun.
Berita terkait:
Melonjak 11,5%, Realisasi Investasi Triwulan II Tembus Rp 477,7 Triliun
“Pada pagi hari Jumat, 1 Agustus 2025, yield SBN 10 tahun stabil di 6,56%. Sedangkan rupiah dibuka pada level (bid) Rp 16.500 per dolar AS,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Bank Sentral terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Selain itu, mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
The Fed Tahan Bunga, Inflasi RI Naik
Sedangkan sebelumnya, berdasarkan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) tanggal 29–30 Juli 2025, Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve mengumumkan bahwa suku bunga Federal Funds Rate (FFR) dipertahankan 4,25% hingga 4,50%. Ini merupakan pertemuan kelima berturut-turut tanpa perubahan tingkat suku bunga di negara adidaya dengan ekonomi terbesar dunia itu, meski Presiden AS Donald Trump mendesak Powell segera menurunkan FFR.
Spread dengan suku bunga acuan Bank Indonesia kini menyempit, lantaran pada 16 Juli lalu BI telah menurunkan BI Rate 25 bps menjadi 5,25%. Ekonom sering menyampaikan idealnya spread ini minimal 100 bps untuk menjaga daya tarik bagi masuknya dana asing.
Ancaman terhadap Rusia
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi membeberkan sejumkah faktor yang memengaruhi pergerakan dolar dan rupiah. Ia membeberkan, pelaku pasar mencermati ancaman sanksi AS yang lebih ketat terhadap minyak Rusia, setelah Washington mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% kepada pembeli minyak terbesar Rusia — yakni Tiongkok dan India — sementara juga mengenakan tarif sebesar 25% kepada India atas hubungannya dengan Moskow.
Trump pada Kamis malam menandatangani perintah yang menguraikan tarif terhadap sejumlah mitra dagang utama AS, dengan bea masuk berkisar antara 10% hingga 50%. Tarif impor tinggi masih diberlakukan oleh Negeri Paman Sam, kendati Washington mencapai kesepakatan perdagangan dengan beberapa negara, termasuk Inggris, Jepang, dan Korea Selatan.
“Washington terlihat mengusulkan tarif yang tinggi kepada mitra dagang lainnya, termasuk pungutan sebesar 35% terhadap Kanada, efektif mulai 1 Agustus 2025. Sementara terhadap Meksiko, Trump memperpanjang batas waktu tarif Meksiko saat ini selama 90 hari, untuk memberikan lebih banyak waktu bagi negosiasi perdagangan (dengan kedua negara tetangga),” ucapnya.
Ia mengatakan fokus pasar hari ini adalah data ketenagakerjaan utama AS untuk bulan Juli. Rilis datanya dijadwalkan malam pukul 19.30 WIB.
“Perekonomian AS diproyeksikan menambah 110 ribu lapangan kerja pada bulan Juli, sementara tingkat pengangguran diperkirakan akan naik menjadi 4,2% dari 4,1% selama periode yang sama. Selain data Nonfarm Payroll (NFP), pasar juga akan mengamati rilis PMI Manufaktur ISM dan indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan (UoM) final,” katanya.
Data Industri Kontradiktif
Faktor internal yang memengaruhi kurs mata uang Garuda, lanjut Ibrahim, adalah data indikator kinerja manufaktur. Pasar merespons negatif setelah rilis data produktivitas manufaktur kembali menunjukkan kontraksi.
“Hal ini tercermin dalam laporan S&P Global Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang berada di level 49,2 pada Juli 2025. Ini di bawah ambang batas 50 (batas level ekspansi),” ujarnya.
Ia menuturkan, kinerja industri dalam negeri bulan Juli sebenarnya mengalami peningkatan, dari bulan sebelumnya yang berada di level 46,9 dan 47,4 pada Mei 2025. Dalam laporan terbaru S&P Global, tren kontraksi ini berlanjut sejak April lalu yang anjlok ke angka 46,7.
“Kontraksi manufaktur yang terjadi dalam 4 bulan terakhir menunjukkan penurunan output produksi dan anjloknya permintaan baru. Pada saat yang sama, permintaan ekspor baru kembali menurun, sedangkan perusahaan sedang dalam retrenchment mode yang ditandai dengan penurunan karyawan dan pembelian,” sebutnya.
Laporan lembaga internasional itu kontradiktif dengan indikator hampir sejenis yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian RI pada minggu ini. Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2025 tembus 52,89. Kinerja industri ini naik 1,05 poin dibanding bulan Juni 2025 dan naik 0,49 poin dibanding Juni tahun lalu.
“Angka ini mengalami peningkatan sebesar 1,05 poin dibandingkan capaian Juni 2025 (51,84), dan lebih tinggi 0,49 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu (52,40). Karena di atas 50, berarti berada pada tahap ekspansif, di tengah momentum libur sekolah dan tahun ajaran baru 2025. Sebanyak 22 subsektor ekspansi, dari 23 subsektor pengolahan nonmigas yang dibina Kemenperin,” ucapnya saat rilis IKI, di Jakarta, Kamis (31/7/2025).

Tekanan Harga Makin Intensif
Tak hanya tekanan permintaan dan produksi, produsen juga menyebut tekanan harga makin intensif sejak awal semester II 2025. Inflasi biaya tembus ke rekor paling tinggi dalam empat bulan, di tengah peningkatan harga bahan baku dan fluktuasi nilai tukar.
“Alhasil, kenaikan biaya sebagian dibebankan kepada klien (konsumen), meski inflasi biaya pada tingkat sedang. Kondisi ini juga menunjukkan kepercayaan diri pengusaha menghadapi tahun mendatang berkurang tajam pada bulan Juli, dengan tingkat optimisme berada di tingkat terendah dalam survei,” tandasnya.

“Inflasi month-to-month (mtm) Juli 2025 mencapai 0,30%. Sedangkan, secara year-to-date (ytd) mencapai 1,69%, dan year-on-year (yoy) 2,37%,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Tingkat inflasi yoy komponen inti Juli 2025 tercatat sebesar 2,32%. Sedangkan inflasi inti mtm sebesar 0,13% dan secara ytd 1,38%. Kendati meningkat dari bulan lalu, inflasi masih dalam sasaran Bank Indonesia 1,5-3,5% tahun ini.
“Tingkat inflasi komponen inti meningkat dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Komoditas yang memberikan andil inflasi pada Juli 2025 di antaranya adalah emas perhiasan, kopi bubuk, dan minyak goreng,” urainya.
Komponen harga diatur pemerintah juga mengalami inflasi secara tahunan. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada Juli 2025 adalah tarif air minum PAM (di 13 wilayah), sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.
“Komponen bergejolak juga mengalami inflasi secara tahunan. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada Juli 2025 adalah bawang merah, tomat, dan beras,” ujarnya.
