Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan. Foto: Dokumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Anthony Budiawan,
Managing Director Political Economy and Policy Studies
UKMDANBURSA.COM – Minggu lalu, Political Economy and Policy Studies (PEPS) menerbitkan artikel Indonesia: Growth Without Prosperity. Artikel tersebut menyajikan fakta, pertumbuhan ekonomi (riil) 2019-2024 ‘stabil’ di sekitar 5 persen, kecuali 2020, tetapi jumlah kelas menengah turun dan kelas rentan miskin naik.
Fakta ini dapat terjadi kalau, satu, pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen. Kedua, pertumbuhan ekonomi terkonsentrasi pada kelas atas yang naik 0,02 persen atau 56.000 orang lebih. Ketiga, kombinasi keduanya: pertumbuhan di bawah 5 persen dan terkonsentrasi pada kelas atas.
Artikel pilihan:
Prabowo Jadilah Bapak Mitigasi Perubahan Iklim, Selamatkan Rakyat dan Pertumbuhan Ekonomi
Referensi Pertumbuhan Ekonomi?
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen overstated, atau ketinggian. Apakah mungkin? Sebelum membahas overstated, mari kita bahas terlebih dahulu bagaimana pertumbuhan ekonomi (riil) ditetapkan.
Ekonomi terbagi dalam dua kelompok, yaitu ekonomi berdasarkan (1) harga berlaku dan (2) harga konstan (riil). Ekonomi berdasarkan harga berlaku adalah ekonomi yang tercatat di dalam national account, yaitu data transaksi ekonomi yang terjadi di masyarakat.
Artikel pilihan:
Wajib L/C Ekspor Migas Bisa Tambah Penerimaan Negara Puluhan Triliun Rupiah

Over the past decade, Indonesia’s economic growth has lagged significantly behind China and several ASEAN countries such as Vietnam. This gap is partly driven by Indonesia’s weaker export performance, while China and Vietnam benefit from strong manufacturing expansion. Source: Andaman Partners and other sources / ukmdanbursa.com.
Oleh karena itulah, data ekonomi menurut harga berlaku merupakan satu-satunya data rujukan pemerintah, dan satu-satunya data yang dimiliki pemerintah. Tetapi, ekonomi harga berlaku (nominal) tidak bisa menjadi referensi pertumbuhan ekonomi, karena terkontaminasi (termasuk) kenaikan harga.
Yang bisa menjadi referensi pertumbuhan ekonomi adalah ekonomi menurut harga konstan. Data ekonomi ini steril dari kenaikan harga, atau ekonomi berdasarkan kuantitas.
Tetapi, pemerintah bisa dikatakan tidak mempunyai data ekonomi menurut harga konstan. Pemerintah hanya mempunyai data ekonomi menurut harga berlaku.
Jadi bagaimana? Tidak masalah. Ada Biro Statistik.
Artikel Pilihan:
Pertumbuhan Tanpa Kesejahteraan, di Mana Masalahnya?

Untuk mendapatkan nilai ekonomi harga konstan (riil), pemerintah harus memperkirakan kenaikan harga (bagi setiap kelompok konsumsi: rumah tangga, pemerintah, investasi, export dan import). Kenaikan harga dalam ekonomi (produk domestik bruto) dinamakan deflator. Perlu diperhatikan, deflator berbeda dengan inflasi (indeks harga konsumen).
Konversi ekonomi dari nilai nominal menjadi nilai riil dapat dilihat dari persamaan berikut: ekonomi riil kurang lebih sama dengan ekonomi nominal dikurangi deflator (ekonomi riil ~ ekonomi nominal – deflator).
Persamaan ini memberi arti bahwa ekonomi riil adalah residu. Artinya, ekonomi riil diperoleh dari hasil penetapan ekonomi nominal dan penetapan deflator. Sedangkan ekonomi nominal (harga berlaku) ditetapkan melalui statistik, baik produksi maupun konsumsi. Deflator juga ditetapkan melalui statistik, yang terkait dengan survei kenaikan harga.
Ketika sampling dan survei dilakukan secara profesional bagi kedua variabel tersebut, yaitu ekonomi nominal dan deflator, maka hasilnya, yaitu ekonomi riil. Data ini dapat dipertanggungjawabkan secara statistik.
Di lain sisi, persamaan di atas juga membuka peluang untuk menetapkan pertumbuhan ekonomi riil di luar model statistik. Atau, ditetapkan secara politis.
Misalnya, realisasi pertumbuhan ekonomi (riil) ditetapkan harus mencapai target 5 persen. Sedangkan realitasnya, pertumbuhan ekonomi nominal hanya, misalnya, 4 persen. Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi (riil) mustahil mencapai 5 persen.
Menggunakan persamaan di atas, biro statistik dapat melakukan operasi statistik untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi riil 5 persen. Pertama, biro statistik menetapkan pertumbuhan ekonomi nominal (dari 4 persen) menjadi misalnya 6 persen, dan kedua menetapkan deflator (kenaikan harga) menjadi sekitar 1 persen, sehingga pertumbuhan ekonom riil menjadi sekitar 5 persen. Yaitu:
- Pertumbuhan ekonomi riil ~ pertumbuhan ekonomi nominal – deflator:
pertumbuhan ekonomi riil ~ (6 – 1) persen = ~ 5 persen.
Pertumbuhan produksi 6 persen yang artifisial besar ini (dari seharusnya 4 persen) tidak bisa diserap oleh konsumsi, dan dicatat sebagai “diskrepansi statistik”. Nilai diskrepansi statistik tahun 2022 dan 2023 sangat besar, mencapai sekitar Rp 1.170 triliun, mendekati konsumsi pemerintah yang hanya sekitar Rp 1.500 triliun setahun.
Apakah angka diskrepansi statistik yang besarnya tidak normal ini menunjukkan ada operasi statistik, sehingga membuat pertumbuhan produksi (nominal) menggelembung (inflated) dan tersimpan di dalam diskrepansi statistik? Sementara itu, berdasarkan analisis deflator, pertumbuhan ekonomi 2024 diperkirakan overstated antara 1,0 – 1,6 persen, bagaimana mungkin?
Catatan
Artikel selanjutkan akan membahas deflator, yaitu variabel penting untuk konversi ekonomi nominal menjadi riil, dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.
