Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. Foto: Tangkapan layar YouTube BI.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah pekan ini. Nonresiden tercatat berbalik mencatatkan net buy (beli neto) jumbo menembus Rp 9,24 triliun di pasar keuangan RI.
“Kami laporkan aliran modal asing minggu I Agustus 2025, berdasarkan data transaksi 4 – 7 Agustus, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp 9,24 triliun. Ini terdiri dari beli neto sebesar Rp 0,64 triliun di pasar saham, Rp 6,27 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), dan Rp 2,33 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 8 Agustus 2025 malam.
Berita terkait:
Sentimen Agustus Ekonomi Membaik dan Bunga Turun, Sektor Apa Bangkit?
Pekan lalu, berdasarkan transaksi 21 – 24 Juli, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 11,30 triliun. Ini terdiri dari beli neto Rp 0,10 triliun di pasar saham dan Rp 2,10 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), serta jual neto sebesar Rp 13,50 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)

Selama tahun 2025, lanjut Denny, berdasarkan data setelmen hingga 7 Agustus 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp 61,13 triliun di pasar saham dan Rp 98,77 triliun di SRBI. Namun, asing masih beli neto sebesar Rp 58,73 triliun di pasar SBN.
Sementara itu, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 7 Agustus 2025 sebesar 74,21 bps, naik dibanding pada 1 Agustus 2025 sebesar 73,68 bps. CDS adalah instrumen derivatif keuangan yang berfungsi sebagai asuransi terhadap risiko gagal bayar (default) surat utang.
Indeks Dolar Melemah
Denny juga menyampaikan perkembangan nilai tukar 4 – 8 Agustus 2025. “Pada akhir hari Kamis, 7 Agustus 2025, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.285 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 6,44%. DXY (indeks dolar Amerika Serikat) melemah ke level 98,40 dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke 4,250%,” ujarnya.
Indeks dolar AS menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). Sedangkan UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 1-10 tahun.
“Pada pagi hari Jumat, 8 Agustus 2025, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 16.300 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun stabil di 6,44%,” ujarnya.
Berita terkait:
Ekonomi Indonesia Triwulan II Tumbuh Kuat 5,12%, Apa Pendorong dan Siapa Pemberatnya?
Bank Indonesia, lanjut Denny, terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Keyakinan Konsumen RI Meningkat
Sementara itu, Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2025 mengindikasikan keyakinan konsumen RI terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2025 yang berada pada level optimistis (indeks >100) sebesar 118,1, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 117,8.

Meningkatnya keyakinan konsumen pada Juli 2025 terutama ditopang oleh penguatan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). IEK Juli 2025 tercatat sebesar 129,6, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 128,9. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Juli tercatat sebesar 106,6, relatif stabil dibandingkan pada bulan sebelumnya sebesar 106,7.
Pemangkasan FFR 1 Kali?
Faktor lain yang memengaruhi nilai tukar adalah probabilitas kenaikan Fed Funds Rate. Dalam lima kali pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) — terakhir pada 30 Juli 2025 — The Fed masih menahan suku bunga acuannya di level 4,25-4,50%. Sementara itu, Bank Indonesia pada 16 Juli sudah memangkas BI Rate 25 bps ke 5,25% guna mendorong kembali ekonomi nasional yang pada kuartal I lalu sempat turun di bawah level psikologis 5% year on year.
Kemudian, rilis data penambahan pekerja nonpertanian AS Juli anjlok dan jauh di bawah ekspektasi. Hal ini meningkatkan potensi Bank Sentral AS menurunkan suku bunga acuan, yang juga sudah lama dituntut Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Para pedagang memperhatikan pidato para pejabat The Fed, untuk mendapatkan isyarat tentang langkah bank sentral selanjutnya. Pada hari Kamis, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic menegaskan kembali pandangannya bahwa satu kali pemotongan suku bunga sudah tepat untuk tahun ini, tetapi menambahkan masih banyak data yang harus ditunggu sebelum pertemuan berikutnya,” kata pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, Jakarta, Jumat (8/8/2025).
Ibrahim mengungkapkan, laporan Bloomberg menyatakan Gubernur Fed Christopher Waller telah muncul sebagai pilihan utama Trump untuk menggantikan Ketua saat ini Jerome Powell, yang akan mengundurkan diri pada pertengahan 2026. Waller termasuk di antara dua anggota dewan Fed yang memberikan suara untuk penurunan suku bunga pada bulan Juli, sejalan dengan tuntutan Trump.
Pelaku pasar juga mencermati kabar Presiden Trump menguraikan pembatasan lebih lanjut pada industri minyak Rusia dan yang terkait, khususnya pengenaan tarif impor tinggi terhadap produk India (lantaran membeli minyak Rusia). Tarif ‘timbal balik’ Trump terhadap mitra dagang utama juga mulai berlaku sejak Kamis, memicu kekhawatiran atas meningkatnya gangguan ekonomi di seluruh dunia, yang pada gilirannya dapat menekan permintaan minyak.
“Rusia mengonfirmasi pada hari Kamis bahwa Presiden Vladimir Putin akan bertemu Trump dalam beberapa hari mendatang, di tengah seruan berulang dari Trump dan Barat untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. Meskipun AS memang memberlakukan sanksi ketat terhadap industri minyak Rusia, sejauh ini AS belum berbuat banyak untuk membatasi pasokan global,” tuturnya.
Dari dalam negeri, lanjut Ibrahim, pemerintah mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan pembiayaan ke dunia usaha untuk menghidupkan sisi konsumsi dan investasi. Apalagi, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan, sehingga diharapkan para kreditur (pengusaha) kembali ramai mendapatkan pinjaman dari debitor (perbankan).
“Sementara itu, target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5–6% (pada kuartal II 5,12% yoy) memerlukan strategi tepat agar dua mesin utama penggerak ekonomi, yakni sektor pemerintah dan swasta, bisa berjalan seimbang. Kekuatan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada permintaan domestik, yakni konsumsi dan investasi (PMTB), yang pada Juni 2025 menyumbang 90% dari Produk Domestik Bruto (PDB),” ujarnya.
Dua mesin penggerak ekonomi, pemerintah dan swasta, harus berfungsi bersama. Selama ini, selalu timpang.
“Satu mati, satu jalan, itu tidak cukup. Sebagai contoh, di era Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) saat harga komoditas tinggi, ekonomi didorong sektor swasta dan utang pemerintah menurun. Sebaliknya, di era Presiden Jokowi (Joko Widodo), peran pemerintah dominan, terutama saat pandemi,” paparnya.
Meski tantangan global seperti geopolitik dan ketidakpastian ekonomi terus membayangi, tandas Ibrahim, tetap penting menjaga momentum domestik. Program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih juga sangat baik untuk menjaga stabilitas, lanjut dia, tapi jangan mengabaikan sektor swasta.
