Ongky Hojanto, Public Speaking Mentor for CEO's. Foto: Dokumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Ongky Hojanto,
Public Speaking Mentor for CEO’s
UKMDANBURSA.COM – “Hidup mati dikuasai lidah”. Ucapkan Nabi Salomo beberapa milenium lalu masih relate dengan kondisi saat ini.
Sepekan, Bangsa Indonesia sempat mengalami gangguan keamanan akibat rangkaian unjuk rasa yang berujung pada jatuhnya korban jiwa, lantaran ucapan oknum anggota dewan yang terhormat. Ucapan beberapa oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat justru kurang peka terhadap kondisi masyarakat, sehingga memicu aksi demo berkepanjangan.
Hal itu akibat minimnya pengetahuan dan kemampuan public speaking, disertai sikap “arogan” yang terkesan antikritik. Hal ini membuat rakyat mual dan bergerak turun ke jalan.

Artikel Pilihan:
Gelembung Pasar Saham AS Mengarah Crash?
Lupa Tugas?
Padahal, tugas DPR adalah menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi rakyat. Namun, tugas pokok ini seakan tidak dilakukan karena minim empati serta kosong dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.
Terlambat merespons atau karena menganggap remeh masalah membuat bara cepat menjalar menjadi kobaran api, dengan daya rusak sangat besar. Unjuk kekecewaan pun menjalar ke berbagai daerah dan kalangan.
Jika saja, sejak awal beberapa anggota dewan yang terindikasi menjadi pemicu kemarahan masyarakat berani tampil dan meminta maaf, mungkin situasi yang terjadi akan berbeda. Apalagi, justru terkesan mereka ini sewenang-wenang melarikan diri ke luar negeri.
Artikel terkait:
Tunjangan DPR Dicabut dan Moratorium Kunjungan Kerja ke Luar Negeri
Langkah Cepat Memadamkan Bara Api
Padahal, sebenarnya ada tiga M yang dapat dilakukan untuk merespons kekesalan publik akibat tindakan atau ucapan yang memicu kemarahan. Kesalahan ucap ini bisa saja terjadi sengaja ataupun tidak disadari, dengan berbagai sebab.
3 M wajib ini merupakan bagian dari komunikasi publik yang perlu dimengerti siapa saja, tak hanya pejabat publik atau petinggi negara. 3 M mencakup:
Pertama, mengakui
Mengakui bahwa ucapan atau tindakan yang dibuat tidak layak dan tidak pantas merupakan cerminan dari jiwa besar, yang akan mendorong simpati masyarakat. Selain itu, menandakan Anda telah mengetahui kekeliruan yang dibuat.
Contohnya dalam kasus ucapan Ahmad Sahroni (saat ini status sebagai anggota DPR telah ditarik Partai NasDem, Red) yang memicu kekecewaan banyak orang, dia bisa segera tampil di publik dalam negeri dan mengucapkan: “Teman-teman sebangsa dan se-Tanah Air, beberapa waktu yang lalu ada ucapan saya mengenai orang tolol sedunia, yang tanpa saya sadari menyakitkan hati serta tidak pantas untuk saya ucapkan.”
Kedua, meminta maaf
Selanjutnya, segera susulkan permintaan maaf yang tulus dan rendah hati, yang akan membuat publik berempati. Permintaan maaf yang tulus juga tidak sekadar atas kesalahan dari kata-kata yang diucapkan, namun juga cara serta bahasa tubuh saat mengucapkan.
Contoh: “Oleh karena itu, saya menarik kembali ucapan tersebut dan meminta maaf bagi saudara-saudara yang tersinggung dan terluka atas tindakan saya. Sekali lagi dari lubuk hati terdalam, saya meminta maaf (dengan sopan, kedua tangan di dada)”.
Ketiga, menindaklanjuti
Dan, langkah terakhir adalah menindaklanjuti masukan atau keberatan yang diprotes oleh masyarakat. Contoh: “Dan untuk masukan atau aspirasi Saudara-Saudara mengenai kenaikan tunjangan rumah anggota DPR, saya akan upayakan secara maksimal untuk dapat dipertimbangkan serta dibatalkan.”
Semoga bermanfaat!

Mantap sekali point of viewnya Pak Ongky.
Kalau mereka tidak lupa,pasti tidak terjadi kejadian2 yang kemarin merusak fasilitas umum dan menyedihkan bangsa.
Terima kasih Pak Ongky untuk sharing salah satu prinsip kehidupan.
3M ini perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari2.
Manusia bisa khilaf, namun bila 3M dilakukan , tatanan sosial bisa tetap damai2 saja.