Ketua Umum Wamti Agusdin Pulungan. Foto: Dokumentasi pribadi.
Oleh Agusdin Pulungan,
Ketua Umum Wahana Masyarakat Tani Nelayan Indonesia (Wamti)
UKMDANBURSA.COM – Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Paripurna DPR tanggal 20 Mei 2026 menurut penulis tidak hanya berisi agenda pemerintahan, tetapi juga memperlihatkan arah cara pandang negara terhadap ekonomi, rakyat, dan masa depan Indonesia. Dari sudut pandang demokrasi sosial, pidato tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa negara ingin kembali mengambil posisi yang lebih aktif dalam mengatur pembangunan dan melindungi kepentingan masyarakat luas.
Penulis memandang demokrasi tidak cukup dimaknai hanya sebagai proses politik lima tahunan atau pergantian kekuasaan semata. Demokrasi harus mampu menghadirkan rasa aman dalam kehidupan ekonomi rakyat. Ketika kekayaan hanya berputar pada kelompok kecil, sementara masyarakat banyak menghadapi tekanan hidup yang semakin berat, maka demokrasi kehilangan makna sosialnya.
Baca juga komik ekonomi:
https://www.instagram.com/p/DYlc0gcEzE1/?igsh=bGZtYnlhZ2pqZmV3
Pertumbuhan di Angka vs Realita
Karena itu, ketika Presiden berbicara mengenai kebocoran ekonomi nasional, lemahnya efisiensi birokrasi, pentingnya hilirisasi industri, dan perlunya memperkuat produksi dalam negeri, penulis melihat adanya semangat untuk mengembalikan fungsi negara sebagai pelindung kepentingan publik. Negara tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai pengawas administratif, melainkan sebagai pengarah pembangunan nasional.
Dalam perspektif demokrasi sosial yang penulis pahami, pasar memang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi. Namun, pasar tidak boleh berjalan tanpa keseimbangan.
Jika negara terlalu lemah, maka arah pembangunan akan lebih banyak ditentukan oleh kekuatan modal dibanding kebutuhan rakyat. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi sering hanya terasa di tingkat angka, tetapi tidak sepenuhnya hadir dalam kualitas hidup masyarakat sehari-hari.
Artikel pilihan:
The Need for Unfiltered Input and the Courage to Face Bitter Truths

Over the past decade, Indonesia’s economic growth has lagged significantly behind China and several ASEAN countries such as Vietnam. This gap is partly driven by Indonesia’s weaker export performance, while China and Vietnam benefit from strong manufacturing expansion. Source: Andaman Partners and other sources / ukmdanbursa.com.
Kemandirian Ekonomi dan Demokrasi
Pidato tersebut juga memperlihatkan pentingnya kemandirian ekonomi nasional. Penekanan pada hilirisasi, penguatan industri domestik, dan pengelolaan sumber daya nasional menunjukkan bahwa Indonesia ingin memiliki posisi yang lebih mandiri di tengah tekanan ekonomi global. Penulis melihat hal ini relevan dengan semangat demokrasi sosial di negara berkembang, yaitu bagaimana negara menggunakan kekuatan ekonominya untuk memperbesar manfaat pembangunan bagi rakyat sendiri.
Namun, penulis juga berpandangan bahwa negara yang kuat harus berjalan bersama demokrasi yang sehat. Demokrasi sosial bukan tentang negara yang bekerja tanpa pengawasan. Justru negara yang aktif harus diimbangi dengan transparansi, supremasi hukum, kritik publik, dan partisipasi masyarakat sipil agar kekuasaan tidak bergerak terlalu jauh dari kepentingan rakyat.
Artikel pilihan:
Konflik Iran dan Antisipasi Rupiah Berdarah, Menuju Berapa Merujuk Sejarah?
Ukuran: Kesejahteraan Rakyat
Menurut penulis, ukuran keberhasilan dari arah kebijakan seperti itu nantinya bukan hanya pertumbuhan investasi atau besarnya proyek pembangunan. Yang lebih penting adalah apakah kehidupan masyarakat benar-benar membaik. Apakah petani memiliki posisi ekonomi yang lebih kuat, apakah nelayan memperoleh perlindungan yang layak, apakah pekerja mendapatkan kepastian hidup yang manusiawi, dan apakah generasi muda memiliki akses terhadap kesempatan ekonomi yang lebih adil.
Dalam konteks itu, penulis melihat pidato Presiden Prabowo membawa pesan bahwa negara ingin membangun kembali keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial. Pendekatan seperti ini memiliki kedekatan dengan semangat konstitusi Indonesia yang sejak awal menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan nasional.

Di tengah situasi global yang semakin tidak pasti, mulai dari tekanan ekonomi dunia, krisis pangan, hingga persaingan sumber daya, penulis memandang negara memang tidak bisa hanya menjadi penonton. Negara perlu hadir dengan arah pembangunan yang jelas, keberpihakan sosial yang nyata, dan keberanian menjaga kepentingan nasional.
Bagi rakyat, inti dari demokrasi sosial tetap sederhana: kemajuan negara harus berjalan bersama kemajuan semua rakyatnya. Dan dalam pidato Presiden pada 20 Mei 2026 tersebut, penulis melihat upaya menuju arah itu mulai diperlihatkan secara lebih terbuka.
Tangsel, 21 Mei 2026
