Tri Winanno. Foto: Istimewa.
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior Bank Indonesia
UKMDANBURSA.COM – Kita menghadapi ketidakpastian yang lebih besar – secara ekonomi, geopolitik, maupun sosial – dibanding era sebelumnya. Dalam era digital ini, sangat penting bagi para CEO, pembuat kebijakan, investor, dan pengambil keputusan lainnya untuk memanfaatkan sumber data yang lebih luas, plus menyaring lebih banyak sinyal dengan kualitas dan keandalan yang beragam.
Terlebih, mereka harus melakukan cepat di dunia yang sedang menyerap dampak deglobalisasi, di tengah meningkatnya ketegangan internasional serta perkembangan teknologi pesat seperti penyebaran Artificial Intelligence (AI). Di sini dan di bidang lain, individu dan perusahaan swasta yang aktivitasnya dapat memengaruhi seluruh masyarakat beroperasi dengan sedikit regulasi atau pengawasan.
Artikel terkait:
Gelembung Pasar Saham AS Mengarah Crash?
Waspadai Salah Alokasi Aset
Oleh karena itu, para pengambil keputusan harus memperhitungkan berbagai risiko. Terbebani oleh banyaknya data dan dalamnya ketidakpastian saat ini, mereka bisa saja tidak melakukan apa pun; tetapi itu pun merupakan keputusan dengan konsekuensi yang berpotensi signifikan.
Mereka yang memimpin organisasi besar atau yang menetapkan kebijakan juga harus berhati-hati dalam mengandalkan data atau model yang tidak mencerminkan dinamika makro, geopolitik, dan pasar yang terus berubah saat ini. Pengambilan keputusan yang buruk, alokasi aset yang salah, atau kebijakan yang buruk sangat mengkhawatirkan, mengingat tail risk tampaknya meningkat. Dalam kondisi seperti itu, biaya dari setiap keputusan yang salah kemungkinan akan meningkat secara substansial.
Pengambilan keputusan membutuhkan pembingkaian masalah yang tepat, survei medan, pemutakhiran data, dan sumber informasi yang sesuai, serta penetapan model untuk mengevaluasi pilihan-pilihan yang bersaing. Setiap tahapan dari rangkaian ini – yang oleh ahli strategi militer John Boyd disebut sebagai lingkaran OODA (amati, orientasi, putuskan, bertindak/observe, orient, decide, act) – harus terus ditinjau ulang, untuk mencerminkan perubahan struktural.
Artikel terkait:
Data Statistik Direkayasa, Apa Bahayanya?
Maksimalkan Standar Hidup Warga
Membingkai masalah dengan tepat berarti mengidentifikasi tujuan utama Anda dengan jelas. Sebuah perusahaan ingin memaksimalkan keuntungan dan nilai pemegang saham, sama seperti pembuat kebijakan ingin memaksimalkan standar hidup warga negara.
Dalam kedua kasus tersebut, para pengambil keputusan harus mengidentifikasi dan berfokus pada area-area yang benar-benar mereka kendalikan. Ini seperti penempatan sumber daya, prioritas pemotongan biaya, atau arah strategis secara keseluruhan (misalnya, menanyakan di wilayah mana Anda sebaiknya fokus beroperasi).
Tugas kedua adalah mengenali dinamika yang menentukan kondisi operasional Anda. Pandemi Covid-19 menggarisbawahi fakta bahwa lanskapnya bisa jauh lebih kompleks daripada yang mungkin Anda bayangkan sebelumnya. Apa yang awalnya dianggap sebagai masalah ‘pemain tunggal’ dengan cakrawala waktu yang ditentukan – sebagai masalah kesehatan yang akan diselesaikan dalam waktu satu tahun setelah vaksin dirilis – segera terbukti menjadi masalah multipemain dengan cakrawala waktu yang terus berubah.
Belum Pulih Pascapandemi?
Dari kesehatan masyarakat dan ekonomi hingga lingkungan pendidikan dan sosial, pandemi memengaruhi semua aspek kehidupan bermasyarakat. Lima tahun kemudian, dunia masih bergulat dengan berbagai isu terkait pandemi, termasuk beban utang pemerintah yang tinggi, penyakit mental, dan rendahnya pencapaian pendidikan.
Sementara itu, tren deglobalisasi terus berlanjut, mengubah medan operasional bisnis global. Para pemimpin perusahaan kini harus mempertimbangkan cara memaksimalkan keuntungan finansial mereka di dunia yang semakin terisolasi, di mana pilar-pilar ekonomi global – arus bebas barang, modal, dan tenaga kerja lintasbatas, beserta tata kelola multilateral – sedang terkikis atau bahkan runtuh.

Waspadai Kualitas Data
Dalam situasi ini, banyak model bisnis yang mapan menjadi lebih berisiko atau usang. Kita tidak lagi bisa berasumsi bahwa kita mampu merekrut talenta internasional, mengelola pusat pengadaan global, meminjam dana murah di London dan New York, atau berinvestasi di pasar negara berkembang dan memulangkan hasil keuntungan.
Ketiga, semua pemimpin harus memperbarui perangkat analisis mereka secara berkala. Keharusan ini bahkan lebih mendesak di era AI. Tugasnya bukan hanya mengevaluasi ulang keluasan dan kedalaman sumber informasi, tetapi juga mengatasi masalah kualitas data.

Skala dan kecanggihan analitik berbasis AI yang luar biasa memungkinkan para pengambil keputusan untuk melalui siklus OODA jauh lebih cepat. Ini misalnya saat mengevaluasi investasi prospektif di negara baru atau mempertimbangkan kelayakan suatu kebijakan.
Terakhir, bagaimana para pengambil keputusan mengevaluasi opsi-opsi yang bersaing sangatlah penting. Banyak lembaga menggunakan strategi mitigasi risiko untuk menentukan bagaimana mereka harus mengalokasikan sumber daya. Strategi-strategi ini mungkin dipandu oleh mandat regulasi yang eksplisit, atau oleh penilaian mereka sendiri terhadap eksposur investasi dalam kondisi yang semakin tidak pasti.
Dengan demikian, dewan perusahaan lebih sering menggunakan strategi itu untuk melindungi nilai aset dan menyesuaikan rencana investasi dan belanja modal. Ini mungkin dengan menyisihkan dana darurat ketika lingkungan operasional menjadi lebih fluktuatif.
Serupa dengan itu, di pasar keuangan, investor umumnya menggunakan kriteria Kelly (rumus dari teori probabilitas), untuk menentukan taruhan atau investasi optimal guna memaksimalkan pertumbuhan kekayaan jangka panjang. Sebagai alternatif, Teori Penyesalan Minimum-Maksimum (atau Minimax) meminimalkan potensi penyesalan maksimum dari suatu keputusan. Di sini, pengambil keputusan memitigasi potensi kerugian (penyesalan), alih-alih berusaha memaksimalkan imbal hasil dalam menghadapi ketidakpastian.
Dalam praktiknya, semua metode ini menawarkan cara untuk mengukur tingkat keberhasilan dan tingkat risiko, lalu memahami trade-off antara kedua nilai tersebut. Namun, di masa ketidakpastian semakin meningkat, Anda perlu mempertanyakan apakah metode yang Anda pilih tetap relevan atau ideal.
Para pengambil keputusan juga harus menyadari bahwa kegagalan meninjau kembali pertimbangan terhadap pilihan-pilihan mereka—berusaha mempertahankan status quo—memiliki risiko tersendiri.
Banyuwangi, 3 September 2025

2 thoughts on “Keputusan saat Hadapi Kekacauan, Tepatkah Pemimpin Mempertahankan Status Quo?”