Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud. Foto: BPS/ukmdanbursa.com.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 tumbuh 4,04 persen (q-to-q) dan secara tahunan menguat mencapai 5,12 persen (y-on-y) atau tertinggi sejak kuartal II 2021 di masa pendemi Covid-19. Sedangkan ekonomi nasional semester I-2025 terhadap semester I-2024 mengalami pertumbuhan sebesar 4,99 persen (c-to-c).
“Ekonomi Indonesia triwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024 mengalami pertumbuhan sebesar 5,12 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 11,31 persen,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Moh Edy Mahmud di Jakarta, Selasa (05/08/2025).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah justru menjadi pemberat. Konsumsinya turun 0,33%.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024, dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,67 persen. Pertumbuhan terjadi pada hampir semua komponen pengeluaran, kecuali Komponen PK-P (Pengeluaran Konsumsi Pemerintah) yang terkontraksi sebesar 0,33 persen. Pertumbuhan tertinggi kedua dicapai oleh Komponen PK-LNPRT (Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga) sebesar 7,82 persen; Komponen PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto/investasi) sebesar 6,99 persen; dan Komponen PK-RT (Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga) sebesar 4,97 persen. Komponen Impor Barang dan Jasa (yang merupakan faktor pengurang dalam PDB menurut pengeluaran) juga tumbuh sebesar 11,65 persen,” paparnya.


Edy Mahmud menjelaskan, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2025 mencapai Rp 5.947,0 triliun. Sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 3.396,3 triliun.
Berita terkait:
Tak Perluas Fasilitas BPJS, Mitra Keluarga (MIKA) Bukukan Laba Melonjak 6,5% Didukung GPM 54,7%
Front Loading?
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan, perkembangan pertumbuhan ekonomi itu tidak lepas dari dinamika global. Ini terutama akibat penundaan penaikan tarif impor tinggi resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama 90 hari, termasuk untuk produk unggulan ekspor Indonesia. Namun, penundaan pemberlakuan tarif luar biasa tinggi dari tanggal 10 April-9 Juli 2025 tersebut dikecualikan untuk barang dari Cina, yang merupakan pesaing utama Negeri Paman Sam.
“Ini juga terkait revisi naik prediksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi 3,1% pada 2025 dan 2026, yang sebelumnya diprediksi masing-masing di level 2,8% dan 3%. Hal itu dikarenakan penundaan berlakunya penaikan tarif impor AS mendorong negara-negara di dunia memacu aktivitas ekspor-impornya di awal (front loading). Indonesia, adalah salah satu negara dengan surplus perdagangan yang cukup tinggi yaitu US$ 4,3 miliar pada Mei dan US$ 4,1 miliar pada Juni 2025,” ujar Rully.

Berbagai negara mitra dagang AS, kecuali RRT, tercatat mengalami kenaikan pertumbuhan pada kuartal II 2025. Ini misalnya pertumbuhan Vietnam melonjak dari 6,9% kuartal I ke 8% kuartal II, Malaysia dari 4,4% ke 4,5%, Singapura dari 4,1% ke 4,3%, dan Korea Selatan dari 0% ke 0,5%.
Sedangkan AS yang merupakan ekonomi terbesar dunia yang memicu perang dagang terbesar sepanjang sejarah masih membukukan pertumbuhan yang sama, yakni 2%. Namun, ekonomi RRT yang merupakan negara dengan PDB terbesar kedua di dunia sangat terpukul. Ekonomi negeri komunis itu tumbuh melambat dari 5,4% ke 5,2%.
Cina merupakan penyebab utama defisit neraca perdagangan barang AS. Indonesia juga membukukan defisit neraca perdagangan terbesar dari Negeri Tirai Bambu itu, sedangkan dengan AS meraih surplus perdagangan terbesar dibanding dari negara mitra lain.
Berita terkait:
MKBD Mirae Asset Rp 1,24 Triliun, Prediksi Investasi Cuan di Tengah Potensi Penurunan Bunga
Lapangan Usaha Apa Melesat?
Ekonomi Indonesia triwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024 tumbuh 5,12 persen, ditopang pertumbuhan pada seluruh lapangan usaha. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan adalah Jasa Lainnya sebesar 11,31 persen; diikuti oleh Jasa Perusahaan sebesar 9,31 persen; Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,52 persen; serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,04 persen. Hal ini terkait momem libur panjang akhir tahun ajaran sekolah, yang memicu geliat pariwisata.
Apalagi, memanfaatkan momen tersebut untuk menggairahkan kembali ekonomi, pemerintah menggelontorkan stimulus Juni-Juli. Ini termasuk diskon sektor transportasi.
Lima paket stimulus ekonomi yang diluncurkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama periode Juni–Juli 2025 senilai total Rp 24,44 triliun, berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan non-APBN. Rinciannya adalah:
1.Diskon iuran JKK (jaminan kecelakaan kerja): 50% untuk 2,7 juta pekerja di enam subsektor industri padat karya selama enam bulan — Rp 200 miliar (non‑APBN)
2.Diskon transportasi: tiket kereta 30%, tiket pesawat (PPN DTP) 6%, tiket angkutan laut 50% — alokasi Rp 940 miliar.
3.Diskon tarif tol: 20% untuk 110 juta pengendara — Rp 650 miliar.
4.Penebalan bantuan sosial: tambahan bansos berupa uang tunai Rp 200.000 per bulan dan 10 kg beras per bulan untuk 18,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program Kartu Sembako, dengan total anggaran Rp 11,93 triliun.
5.Bantuan Subsidi Upah (BSU): Rp 300.000 per bulan selama dua bulan untuk 17,3 juta pekerja bergaji < Rp 3,5 juta dan guru honorer (sekitar 565 ribu orang) — Rp 10,72 triliun.

Jawa Penopang Utama, Sulawesi?
Secara spasial, pada triwulan II-2025, provinsi-provinsi di Pulau Jawa masih menjadi motor utama perekonomian Indonesia. Kontribusinya sebesar 56,94 persen terhadap PDB nasional dan pertumbuhan ekonominya 5,24 persen (y-on-y).
“Pada triwulan II-2025, kelompok provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi struktur perekonomian Indonesia secara spasial, dengan kontribusi sebesar 56,94 persen terhadap PDB nasional. Posisi berikutnya ditempati oleh Pulau Sumatera (22,20 persen), Kalimantan (8,09 persen), Sulawesi (7,21 persen), Bali dan Nusa Tenggara (2,83 persen), serta Maluku dan Papua (2,73 persen),” ucap Edy Mahmud.
Ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2025 menunjukkan pertumbuhan di sejumlah provinsi, dengan kelompok provinsi di Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan (y-on-y) tertinggi sebesar 5,83 persen. Ini disusul oleh Pulau Jawa (5,24 persen), Pulau Sumatera (4,96 persen), dan Pulau Kalimantan (4,95 persen). Sementara itu, pertumbuhan tercatat sebesar 3,73 persen di Pulau Bali dan Nusa Tenggara, serta 3,33 persen di Pulau Maluku dan Papua.


5 thoughts on “Ekonomi Indonesia Triwulan II Tumbuh Kuat 5,12%, Apa Pendorong dan Siapa Pemberatnya?”