Kadin Indonesia PPPA bersama Iwapi-MUSIAD Indonesia dan Femina Wirausaha Perempuan saat menghadirkan talk show pemberdayaan perempuan bertema Kewirausahaan dan Akses Permodalan. Foto: Kadin/ukmdanbursa.com.
Oleh Teguh Anantawikrama,
pengamat ekonomi dan kebangsaan
UKMDANBURSA.COM – Di tengah lanskap ekonomi global yang semakin berlapis dan penuh ketidakpastian, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga inklusif secara sosial. Dalam konteks ini, peran Tatyana Sentani Sutara, Wakil Ketua Umum Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPIA) Kadin Indonesia menarik untuk disimak menjelang Hari Ibu 22 Desember.
Tatyana merepresentasikan wajah kepemimpinan baru. Wajah kepemimpinan yang bekerja senyap, konsisten, dan berpihak pada perluasan peran perempuan dalam ekonomi nasional maupun global.
Sebagai WKU PPIA, ia berada pada persimpangan strategis antara diplomasi ekonomi dan pemberdayaan perempuan. Tantangan terbesar pengusaha perempuan bukan semata keterbatasan kapasitas, melainkan akses—terhadap jejaring, informasi, dan pengambilan keputusan.
Karena itu, perjuangan tidak berhenti pada wacana kesetaraan, tetapi perlu diterjemahkan dalam kerja nyata membuka ruang partisipasi. Kerja yang tidak pernah terputus, kerja yang tak mengenal waktu.
Artikel pilihan:
Kadin Indonesia PPPA, Iwapi-MUSIAD, dan Femina Tingkatkan Pemberdayaan Wirausaha Perempuan
Inklusi Bukan Slogan
Dalam berbagai forum internasional dan pertemuan bisnis, Tatyana mendorong kehadiran perempuan sebagai pelaku utama, bukan sekadar pendamping atau simbol. Pengusaha perempuan Indonesia tidak hanya “hadir”, tetapi didengar, diperhitungkan, dan dilibatkan dalam proses negosiasi dan kerja sama. Inklusi bukanlah slogan, melainkan praktik yang terus berkembang.
Pendekatan yang ia tempuh bersifat empowerment-based. Alih-alih menciptakan ketergantungan, Tatyana mendorong penguatan kapasitas: kesiapan mental, kepercayaan diri, dan pemahaman lintasbudaya.
Ia kerap menjadi mentor informal—menyambungkan pengusaha perempuan dengan mitra potensial, memberi konteks, dan membuka pintu yang sebelumnya tertutup. Inilah bentuk perjuangan yang jarang terlihat, tetapi dampaknya berkelanjutan.
Lebih jauh, Tatyana menantang stereotip lama tentang kepemimpinan perempuan. Ia menunjukkan bahwa keramahan tidak bertentangan dengan ketegasan, dan empati tidak mengurangi profesionalisme.
Dalam diplomasi ekonomi, justru kualitas-kualitas inilah yang sering menjadi pembeda. Melalui cara bekerja yang penuh empati dan terbuka terhadap inovasi, ia memperluas definisi kepemimpinan, membuat lebih manusiawi sekaligus efektif.
Artikel pilihan:
Di Luar Dugaan, Rp 107 Triliun Berputar di Libur Nataru

Kolaboratif
Perjuangan Tatyana juga tercermin dalam upaya membangun ekosistem kolaboratif di dalam Kadin. Ia mendorong agar isu pengusaha perempuan tidak dipisahkan sebagai agenda pinggiran, melainkan diintegrasikan ke dalam strategi besar diplomasi ekonomi Indonesia. Perempuan bukan segmen khusus, melainkan aktor ekonomi penuh.
Yang patut dicatat, perjuangan ini dilakukan tanpa retorika berlebihan. Tidak ada klaim heroik, tidak ada politik identitas yang agresif.
Yang ada adalah etos kerja yang kuat, konsistensi, dan keberpihakan yang tenang. Ini yang membuat peran Tatyana relevan: membuktikan bahwa perubahan struktural sering kali lahir dari kerja-kerja kecil yang dilakukan terus-menerus.
Di tengah tantangan global hari ini—fragmentasi pasar, ketegangan geopolitik, dan disrupsi teknologi—Indonesia membutuhkan kepemimpinan perempuan yang tidak hanya kuat secara simbolik, tetapi berdaya secara substansial. Tatyana memperlihatkan bahwa memperjuangkan perempuan bukan berarti berhadapan dengan sistem, melainkan mengubahnya dari dalam.
Dan, di sanalah letak kekuatan sebagai perempuan. Melahirkan banyak kebaikan. ***

1 thought on “Tatyana dan Perjuangan Perempuan dalam Diplomasi Ekonomi Indonesia”