Ilustrasi sosialisasi cermat dan bijak berinvestasi untuk para investor. Sumber: OJK.
UKMDANBURSA.COM – Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina kembali menekan sentimen investasi di sejumlah pasar dalam beberapa hari terakhir. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan pembatasan ekspor baru terhadap berbagai produk yang dibuat menggunakan US software, sementara pihak Beijing menuntut data sensitif dari sejumlah perusahaan semikonduktor AS dalam investigasi antidumping.
Sementara itu, dinamika terbaru pun muncul menjelang rencana pertemuan informal antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), yang bakal digelar pada 31 Oktober-1 November. Kedua ‘musuh bebuyutan’ itu tampak berupaya memperpanjang gencatan perang dagang, yang belakangan terancam akibat meningkatnya ketegangan.
Pada awal bulan ini, Cina tercatat memperluas kontrol ekspor rare earth elements, sementara Trump mengancam akan mengenakan tarif impor tambahan terhadap saingan utamanya tersebut. Namun, kabar terbaru berembus bahwa Trump memberi sinyal bakal tercapai kesepakatan dagang AS–RRT. AS juga memperkirakan Tiongkok akan menunda penerapan pengendalian ekspor logam tanah jarang tersebut.
Rare earth elements ini sangat dibutuhkan AS. Logam itu penting untuk teknologi modern, digunakan dalam chip semikonduktor, magnet kendaraan listrik, turbin angin, baterai, hingga berbagai perangkat elektronik.

Equity Bull Market?
Lalu, bagaimana pandangan salah satu investment bank terbesar di dunia, UBS? Dengan assets under management (AUM) di atas US$ 5 triliun — 3 kali lipat lebih dari produk domestik bruto (PDB) RI — UBS merupakan wealth manager terbesar secara global, melampaui Morgan Stanley dan JPMorgan dalam kategori tersebut.
Perusahaan jasa keuangan multinasional asal Swiss ini menilai equity bull market di AS masih memiliki ruang untuk berlanjut. “Kami juga menegaskan kembali pandangan bahwa kebijakan moneter longgar Federal Reserve, pertumbuhan laba korporasi yang solid, dan belanja investasi AI (Artificial Intelligence) mendukung pandangan positif terhadap US equities. Karena itu, kami percaya penting bagi investor untuk memiliki eksposur yang memadai terhadap saham AS. Namun, kami juga menekankan pentingnya bagi investor untuk mendiversifikasi portofolio mereka di luar saham AS,” papar laporan terbaru UBS, dikutip Selasa (28/10/2025).

Artikel pilihan:
Trump Recognizes Prabowo’s Peace Diplomacy and Indonesia’s Independent Rise
Di sisi lain, UBS mengingatkan, setiap kemunduran dalam hubungan AS–Tiongkok atau kekhawatiran terhadap keberlanjutan AI-driven rally dapat memicu periode volatilitas tinggi di pasar. Hal ini harus dicermati para investor.
“Dalam konteks saat ini, kami melihat peluang menarik di sejumlah pasar saham Asia, obligasi berkualitas (quality bonds), dan emas. Jadi, meski kami merekomendasikan agar investor tetap mengambil posisi untuk memperoleh manfaat dari potensi rally lanjutan di saham AS dalam 12 bulan ke depan, diversifikasi tetap menjadi kunci untuk membangun portofolio yang tangguh dalam jangka panjang,” tandasnya.

Artikel pilihan:
Bunga Pinjaman Cina 20-34 Kali Jepang, Proyek Kereta Cepat Terindikasi Mark Up dan Dikorupsi?

1 thought on “Simak, UBS Sebut Ini Kunci Membangun Portofolio Tangguh”