Akhabani, yang baru saja saja diangkat sebagai Presiden Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. Foto: RELI/Ester Nuky/ukmdanbursa.com.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Sentimen pasar modal pada Agustus ini diperkirakan diwarnai dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari kuartal II 2025 dan suku bunga acuan diprediksi akan turun, baik BI Rate maupun Fed Funds Rate. Lalu, investasi apa yang bisa dicermati investor?
“Ekonomi kuartal III hingga IV diprediksi membaik dan ada potensi penurunan suku bunga, diperkirakan mendorong beberapa sektor seperti properti, perbankan, dan konsumer siklikal. Peluang BI rate turun lagi tahun ini, demikian pula FFR. Secara umum, baik pasar saham maupun obligasi (pemerintah dan korporasi) akan membaik,” ujar Senior Research Analyst PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) Arifin dalam diskusi bertopik Market Update: What to Expect in August? di Jakarta, Kamis (7/8/2025).

Double Regulated, Danai Koperasi Merah Putih?
Meski demikian, Arifin menjelaskan, harga saham bank-bank Himbara masih tertekan kendati BI Rate sudah diturunkan pada 16 Juli 2025. Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dari 5,50% menjadi 5,25%, antara lain untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi RI agar bergairah kembali di tengah tekanan perang dagang yang dipicu tarif impor tinggi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan gejolak geopolitik. Selain itu, kurs rupiah dinilai cukup stabil dan inflasi rendah.
“Bank BUMN (badan usaha milik negara) double regulated. Bank BUMN high regulated, mereka juga harus mematuhi seperti ketentuan pasar modal, juga regulasi dari pemerintah. Mengenai sentimen negatif terkait apakah ikut memberikan modal koperasi (Merah Putih) 80.000 desa, ini masih spekulasi, belum bisa mengatakan ya tidaknya. Biasanya bila issue Juli-Agustus, baru bisa dilihat 2 bulan ke depan datanya, apakah kredit bank Himbara dikucurkan untuk mendanai 80.000 koperasi desa atau tidak,” ucap Arifin.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Akhabani mengatakan, analisis mengenai perkembangan ekonomi dan pasar modal penting didiskusikan para pelaku pasar modal. Jika investor mendapatkan data dan analisis yang baik, hal itu akan memungkinkannya mengambil keputusan lebih baik.
BI Rate 1 Kali Turun, FFR?
Arifin mengatakan, ada peluang 1 kali lagi BI rate diturunkan tahun ini. Sedangkan FFR turun 3 kali masing-masing 25 bps, dari saat ini 4,25-4,50%. FFR sudah dipertahankan dalam lima pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Pada pertemuan FOMC bulan ini, The Fed masih mempertahankan suku bunga acuan AS itu, kendati Trump sudah lama mendesak Chief Bank Sentral AS Jerome Powell untuk menurunkan FFR. Dengan kini penambahan tenaga kerja nonpertanian di negeri adidaya itu anjlok dan jauh di bawah ekspektasi, diperkirakan FFR akan diturunkan mulai September, Oktober, dan Desember tahun ini.
Penurunan suku bunga di ekonomi terbesar dunia itu diperkirakan bakal lebih mudah, setelah satu dari tujuh gubernur Federal Reserve (The Fed), Adriana Kugler, mengundurkan diri dari jabatannya. Kugler merupakan gubernur The Fed yang ditunjuk oleh Presiden AS sebelumnya Joe Biden. The Fed tercatat mengumumkan pengunduran diri itu pada Jumat (1/8/2025), ketika Presiden Trump tetap gigih mendorong penurunan suku bunga kebijakan.
Seiring dengan penurunan suku bunga, lanjut Arifin, yang akan sensitif antara lain adalah properti, perbankan, dan sektor konsumer siklikal. “Yang sensitif suku bunga turun, diuntungkan, lantaran terjadi shifting dari karakter masyarakat menabung ke spending. Biasanya yang pertama dipikir sandang, pangan, papan. Properti kebutuhan papan, maka bila suku bunga turun plus gimmick properti, maka menjadi engine pertumbuhan ekonomi selanjutnya. Diharapkan, pemerintah kembali mengeluarkan stimulus memanfaatkan momentum sektor properti, di mana sebelumnya pemerintah juga sudah menurunkan (memberikan) stimulus,” ujarnya.
Berita pilihan:
Ketahanan Iklim Petani Indonesia, Pertanian Jangan Ditinggalkan
Belanja Pemerintah?
Menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Moh Edy Mahmud, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 tumbuh 4,04 persen (qtq) dan secara tahunan menguat mencapai 5,12 persen (yoy) atau tertinggi sejak kuartal II 2021 di masa pendemi Covid-19. Sedangkan ekonomi nasional semester I 2025 terhadap semester I 2024 mengalami pertumbuhan sebesar 4,99 persen (ctc).
“Ekonomi Indonesia triwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024 mengalami pertumbuhan sebesar 5,12 persen (yoy). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 11,31 persen,” kata
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah justru menjadi pemberat. Konsumsinya turun 0,33 persen.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024, dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi 10,67 persen. Pertumbuhan terjadi pada hampir semua komponen pengeluaran, kecuali Komponen PK-P (Pengeluaran Konsumsi Pemerintah) yang terkontraksi 0,33 persen. Pertumbuhan tertinggi kedua dicapai oleh Komponen PK-LNPRT (Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga) 7,82 persen; kemudian Komponen PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto/investasi) 6,99 persen; dan Komponen PK-RT (Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga) 4,97 persen. Komponen Impor Barang dan Jasa (yang merupakan faktor pengurang dalam PDB) juga tumbuh 11,65 persen,” paparnya.

“Jika melihat pada kuartal II pengeluaran pemerintah masih kontraksi, maka pada kuartal berikutnya akan naik. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik,” tutur Arifin.

2 thoughts on “Sentimen Agustus Ekonomi Membaik dan Bunga Turun, Sektor Apa Bangkit?”