Ekonom dan Pakar Pasar Modal Dr Lucky Bayu Purnomo. Foto: Dokumentasi pribadi/ukmdanbursa.com.
Oleh Dr Lucky Bayu Purnomo,
Ekonom dan Pakar Pasar Modal
UKMDANBURSA.COM – Inovasi Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menggelontorkan Rp 200 triliun guna memperkuat penyaluran kredit perbankan bukan kebijakan fiskal biasa. Langkah tersebut menjadi sinyal kuat optimisme dan kepercayaan pemerintah terhadap sektor sektor riil, yang berhasil menggerakkan psikologi pasar dan dunia usaha.
Hasilnya luar biasa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high) di level 8.272 poin, pada 9 Oktober 2025. Fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana Signaling Theory bekerja, ketika persepsi dan komunikasi mampu menciptakan kenyataan ekonomi.
Artikel pilihan:
Indonesia Takes the Lead: From Observer to Guardian of World Peace
Ubah Cara Melihat Ekonomi
Signaling Theory diperkenalkan oleh Michael Spence pada tahun 1973, melalui karya ilmiahnya Job Market Signaling. Spence menjelaskan bagaimana individu atau institusi yang memiliki informasi lebih banyak dapat mengirimkan sinyal kepada pihak lain yang memiliki informasi terbatas, agar keputusan ekonomi menjadi lebih efisien dan rasional.
Teori ini kemudian membawa Spence meraih Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2001, bersama George Akerlof dan Joseph Stiglitz, yang meneliti fenomena asymmetric information. Ini merupakan kondisi ketika satu pihak dalam pasar memiliki informasi lebih lengkap dari pihak lainnya.
Namun yang membuat teori ini abadi adalah relevansinya di dunia nyata. Dalam konteks modern, sinyal bukan hanya pesan, melainkan strategi komunikasi ekonomi. Pemerintah, bank sentral, korporasi, dan investor semua menjadi bagian dari sistem sinyal yang menentukan arah pergerakan pasar global.
Kisah Nyata dari Indonesia
Tahun ini, Indonesia menghadirkan studi kasus nyata tentang kekuatan sinyal dalam kebijakan ekonomi. Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kebijakan strategis senilai Rp 200 triliun untuk memperkuat likuiditas dan penyaluran kredit perbankan, pasar langsung membaca pesan itu sebagai komitmen serius pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan itu bukan sekadar stimulus keuangan, lebih jauh, menjadi sinyal kepercayaan. Dalam hitungan hari, indeks saham menguat, volume perdagangan meningkat, dan sektor keuangan menunjukkan pemulihan signifikan. Investor merespons dengan antusiasme, sementara dunia usaha memaknai kebijakan ini sebagai sinyal keberlanjutan ekspansi ekonomi nasional.
Puncaknya terjadi pada 9 Oktober 2025, ketika IHSG mencetak rekor baru di level 8.272 poin, menandai titik tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia dan efek dari “Purbaya Effect”. Ini contoh konkret bagaimana kebijakan berbasis sinyal dapat mengubah persepsi menjadi aksi nyata di pasar keuangan.

Artikel pilihan:
Negara Berkembang Membayar Terlalu Banyak untuk Meminjam, Dana Pembangunan Berkurang
Psikologi Pasar, Kinerja Ekonomi
Signaling Theory bekerja karena pasar tidak hanya bereaksi terhadap data, tetapi terhadap makna di baliknya. Sebuah kebijakan yang disertai komunikasi yang jelas, konsisten, dan kredibel akan menciptakan keyakinan kolektif.
Ketika pemerintah mengirimkan sinyal positif, misalnya, tentang kestabilan ekonomi dan keuangan, penurunan suku bunga, atau dorongan investasi, pelaku pasar akan menyesuaikan perilaku mereka. Bahkan, sebelum kebijakan dijalankan sepenuhnya.
Inilah kekuatan sinyal, ia mampu menggerakkan ekspektasi dan ekspektasi menggerakkan tindakan. Dan ketika tindakan kolektif bergerak ke arah yang sama, kenyataan dinamika ekonomi, keuangan, hingga kondisi pasar tercipta.

Kebijakan Rp 200 triliun itu bukan hanya soal besarnya angka, melainkan soal komunikasi dan kredibilitas. Sinyal yang dikirim oleh Menteri Keuangan baru membangun keyakinan bahwa sektor perbankan Indonesia solid. Pemerintah siap menopang likuiditas dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Dari titik itu, sentimen pasar berubah, dari kehati-hatian menjadi kepercayaan, dari stagnasi menjadi ekspansi. Perbankan meningkatkan kredit, dunia usaha memperluas produksi, dan investor domestik maupun asing melihat Indonesia sebagai pasar yang stabil dengan prospek menarik jangka panjang. Kekuatan psikologis sinyal inilah yang menjadi fondasi penguatan pasar saham domestik, hingga menembus level tertingginya.
“Sinyal yang kredibel mampu menggerakkan kepercayaan, dan kepercayaan yang kuat mampu mengubah perasaan menjadi kenyataan pasar.”
— Dr Lucky Bayu Purnomo
Kata Bernilai Triliunan
Dari perspektif teori ekonomi, sinyal yang konsisten dan kredibel mampu menciptakan self-fulfilling prophecy, ramalan yang menjadi kenyataan karena banyak pihak mempercayainya. Ketika kepercayaan tumbuh, likuiditas menjadi bergerak, konsumsi meningkat, dan investasi mengalir. Maka benar adanya, dalam pasar modern, kata-kata yang tepat dapat bernilai triliunan rupiah.
Lebih jauh, kebijakan publik dapat menjadi bentuk komunikasi ekonomi yang sangat efektif dan efisien, selama pesan yang dikirimkan jelas dan dipercaya. Inilah esensi dari Signaling Theory dalam praktik menciptakan kenyataan melalui kepercayaan.
Teori Sinyal membuktikan bahwa ekonomi bukan sekadar angka dan grafik, melainkan sistem sosial yang digerakkan oleh persepsi, ekspektasi, dan kepercayaan. Langkah Menkeu Purbaya pada 2025 menjadi materi penting bagi dinamika ekonomi dan investasi, sinyal yang kuat dan kredibel untuk dapat menggantikan ratusan data yang ambigu.
Kebijakan Rp 200 triliun itu bukan hanya stimulus, tetapi sebuah pesan yang membangkitkan optimisme nasional dan memicu sejarah baru di pasar modal Indonesia. Dari teori Spence hingga praktik nyata di Indonesia, Signaling Theory telah membuktikan satu hal penting: dalam ekonomi modern, persepsi yang dikelola dengan baik dapat menciptakan kenyataan yang sesungguhnya.
Waktu, Optimisme, Arah Masa depan
Ekonomi dan investasi ini selalu berjalan dalam ruang waktu, dan waktu adalah faktor yang menentukan apakah sebuah sinyal menjadi kenyataan atau sekadar gema sesaat. Waktu memberi kesempatan bagi kebijakan untuk berbuah, bagi pasar untuk beradaptasi, dan bagi investor untuk memahami arah perubahan.
Keberhasilan kebijakan ekonomi, keuangan hingga investasi menunjukkan bahwa ketepatan waktu dalam mengirim sinyal sama pentingnya dengan isi sinyal itu sendiri. Terlambat sedikit, pasar kehilangan momentum, terlalu cepat, pesan bisa salah dimaknai.
Namun ketika sinyal disampaikan pada waktu yang tepat, dengan niat yang jelas dan strategi yang terukur, hasilnya menjadi luar biasa. Kepercayaan tumbuh, pasar menguat, dan ekonomi bergerak selaras.
Jika arah kebijakan dan komunikasi ekonomi tetap konsisten, maka sinyal kepercayaan yang hari ini dikirimkan pemerintah akan menjadi kenyataan ekonomi yang berkelanjutan di masa depan.
Oleh karena itu, dalam setiap langkah ekonomi, dari kebijakan hingga investasi, waktu bukan hanya ukuran detik dan hari, tetapi ukuran kepercayaan dan arah masa depan. Dengan fondasi optimisme yang telah terbangun, saya memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level 9.100, seiring dengan capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang dapat berada di kisaran 5,6% hingga 6,3% dalam periode mendatang.
Jakarta, 20 Oktober 2025

1 thought on “Purbaya Effect : Mengubah Perasaan Menjadi Kenyataan Pasar?”