PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia saat menggelar aksi nyata tanggung jawab sosial lingkungan (Corporate Social Responsibility/CSR) berupa kegiatan membersihkan sampah di Danau Situ Gede, Bogor, Jawa Barat, bersama media dan masyarakat. Foto: Mirae/ukmdanbursa.com.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi sejumlah investasi bakal menguntungkan di tengah adanya ruang penurunan suku bunga acuan. Perusahaan dari salah satu grup keuangan terbesar di Korea Selatan ini memiliki modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) sekitar Rp 1,24 triliun setahun terakhir, lebih tinggi dari aturan perundang-undangan untuk perusahaan efek Rp 25 miliar.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan, Bank Indonesia memiliki ruang pemangkasan BI Rate sekali lagi sebesar 25 bps, ke 5% tahun ini. Dengan prediksi itu, sektor emas dan perbankan masih akan diuntungkan karena pemangkasan suku bunga acuan yang sudah dilakukan akan segera berdampak pada penurunan suku bunga perbankan.
“Instrumen obligasi juga diprediksi akan diuntungkan dari pemangkasan suku bunga tersebut, karena dapat menekan imbal hasil (yield) yang mendorong kenaikan harga instrumen surat utang. Sementara itu, kondisi makroekonomi dan pasar modal pada semester II 2025 masih akan menantang. Faktor utamanya adalah kebijakan tarif perdagangan AS yang mulai berlaku pada semester II,” ujarnya.
Dari faktor global, anjloknya penambahan tenaga kerja non-farm AS yang dirilis pekan lalu dan desakan penurunan suku bunga The Fed oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan potensi penurunan Fed Funds Rate. Pada FOMC terbaru 30 Juli 2025, Bank Sentral AS memutuskan suku bunga acuan tetap di rentang 4,25–4,50%, atau sudah dipertahankan dalam lima pertemuannya berturut‑turut.
“Saat ini, data dan peristiwa yang terjadi beragam (mixed), karena di tengah derasnya sentimen negatif penaikan tarif dagang AS ternyata ada beberapa sentimen positif yang membuatnya seimbang. Beberapa sentimen positif itu adalah revisi naik pertumbuhan ekonomi global, pelemahan dolar AS yang membuat rupiah menguat, dan ruang pemangkasan suku bunga acuan melebar,” kata Rully dalam keterangan pada Senin (4/8/2025), usai mengikuti aksi tanggung jawab sosial lingkungan (Corporate Social Responsibility/CSR) dengan membersihkan sampah di Danau Situ Gede, Bogor, Jawa Barat, bersama media dan masyarakat.
Acara CSR tersebut juga dihadiri Direktur Mirae Asset Arisandhi Indrodwisatio, CFO & Head of Corporate Secretary Mirae Asset Ivonne Kaharu, Head of Marketing Mirae Asset Leo Nara Wirendra, dan Capital Market Manager Mirae Asset Jeongmin Lee. Selain itu, Impact Manager Bumi Journey Byanmara beserta perwakilan warga sekitar.
Berita terkait:
Rupiah Melemah Dorong Inflasi Naik, Emas Bakal Tembus US$ 3.600/Troy Ounce

IHSG Diproyeksi ke 7.900
Dengan sentimen yang seimbang tersebut, Rully memprediksi pada akhir 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bakal ditutup di level 7.900. Indeks hari ini ditutup di level 7.464,64.
“Ini juga terkait revisi naik prediksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi 3,1% pada 2025 dan 2026. Sebelumnya diprediksi masing-masing di level 2,8% dan 3%,” ujar Rully.
Hal itu dikarenakan penundaan berlakunya penaikan tarif impor AS mendorong negara-negara di dunia memacu aktivitas ekspor-impornya di awal (front loading). Indonesia, lanjut Rully, adalah salah satu negara dengan surplus perdagangan yang cukup tinggi yaitu US$ 4,3 miliar pada Mei dan US$ 4,1 miliar pada Juni 2025.
“Namun, (secara umum), kami memprediksi berlakunya tarif oleh Presiden AS Donald Trump akan membuat aktivitas perdagangan dunia terpengaruh signifikan. Ini tidak terkecuali Indonesia,” tandasnya.
Berita pilihan:
Surplus Neraca Perdagangan Turun ke US$ 4,1 Miliar, Inflasi Juli Naik Tembus 0,30%
Kemenkeu Tawarkan Kupon hingga 6,35%
Sementara itu, Kemenkeu masih menawarkan SBR014T2 dan SBR014T4 dengan kupon sampai 6,35% hingga sepekan ke depan tanggal 7 Agustus, meski BI telah menurunkan suku bunga acuan 25 bps ke 5,25% pada 16 Juli lalu. “Savings Bond Ritel (SBR) merupakan pilihan berharga untuk hidup lebih terencana. Masa penawarannya kepada masyarakat 14 Juli-7 Agustus. Pemesanannya mulai Rp 1 juta dan setelmen/penerbitan 13 Agustus 2025,” paparnya.
SBR memiliki kupon yang mengambang dengan kupon minimal (floating with floor) dan mengacu pada BI Rate. “Mengambang” artinya besaran kupon SBR akan disesuaikan dengan perubahan BI Rate setiap tiga bulan sekali. “Kupon minimal” artinya tingkat kupon pertama yang ditetapkan akan menjadi kupon minimal yang berlaku sampai dengan jatuh tempo.

SBR014T2 memiliki kupon minimal 6,25% pa (per tahun). SBR014T2 bertenor 2 tahun, jatuh tempo 10 Agustus 2027 dan terdapat fasilitas early redemption.
SBR014T4 bertenor 4 tahun, dengan kupon minimal 6,35% pa. Jatuh temponya 10 Agustus 2029 dan juga ada fasilitas early redemption.
“Bentuknya tanpa warkat, tidak dapat diperdagangkan, tidak dapat dilikuidasi/dicairkan sampai dengan jatuh tempo, kecuali pada early redemption. Periode penyampaian minat early redemption SBR014T2: 27 Agustus- 4 September 2026, untuk SBR014T4: 30 Agustus-6 September 2027,” paparnya.
Early redemption, lanjutnya, merupakan fasilitas yang memungkinkan investor menerima sebagian pelunasan pokok SBR oleh pemerintah RI sebelum jatuh tempo. Fasilitas ini hanya dapat dimanfaatkan oleh investor dengan minimal kepemilikan Rp 2 juta di setiap Mitra Distribusi dan jumlah maksimal yang dapat diajukan untuk early redemption adalah 50% dari total kepemilikan investor.
Maksimum pemesanan SBR014T2 senilai Rp 5 miliar. Sedangkan SBR014T4 lebih besar, Rp 10 miliar.
Pembayaran kupon tanggal 10 setiap bulannya. Kupon pertama akan dibayarkan pada tanggal 10 September 2025. Dalam hal tanggal pembayaran kupon bukan pada hari kerja, maka pembayaran kupon dilakukan pada hari kerja berikutnya tanpa kompensasi bunga.

2 thoughts on “MKBD Mirae Asset Rp 1,24 Triliun, Prediksi Investasi Cuan di Tengah Potensi Penurunan Bunga”