Wakil Ketua Umum API Bidang Perindustrian Ian Syarif. Foto: API.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendorong Presiden Prabowo Subianto agar menelepon Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk penurunan tarif ekspor ke AS, demi memperjuangkan nasib industri padat karya di Tanah Air. Salah satunya, dengan memasukkan kapas dan rayon ke komoditas berbasis sumber daya alam (SDA) tropis, agar ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia memperoleh tarif resiprokal AS 0%.
“API masih optimistis bahwa pemerintahan Presiden Prabowo tetap akan memperjuangkan tarif ekspor ke US, meski saat ini hampir merampungkan perjanjian tarif resiprokal Indonesia dan USA,” kata Wakil Ketua Umum API Ian Syarif dalam keterangan di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Hal itu dikatakan Ian menanggapi berita baru-baru ini bahwa Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan tarif nol persen ke US diberlakukan hanya pada komoditas sumber daya alam berbasis tropis (tropical based natural resources). Dalam hal ini, produk manufaktur seperti tekstil akan tetap dikenai tarif
resiprokal AS 19 persen.
Artikel pilihan:
Prabowo Jadilah Bapak Mitigasi Perubahan Iklim, Selamatkan Rakyat dan Pertumbuhan Ekonomi

Sumber: textiletoday/BPS/ukmdanbursa.com.
Saling Menguntungkan
Ian mengatakan sumber daya alam seperti cotton juga berbasis tropical natural resources. Di sejumlah daerah di Indonesia, tanaman kapas sejatinya juga bisa dibudidayakan dengan baik, seperti di daerah Nusa Tenggara Timur.
Hal itu, lanjut Ian, diperkirakan akan mendapatkan atensi dari AS. Pasalnya, RI masih menjadi salah satu importir utama cotton dari US, dan ada komitmen dunia usaha pertektilan dan garmen di Indonesia untuk melakukan impor senilai US$ 4,5 miliar produk agri dari negeri adidaya tersebut.
“Nilai import cotton itu akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan produksi garmen dan kain berbahan baku cotton dari US untuk permintaan ekspor ke US. Iklim industri TPT yang telah didorong tumbuh oleh pemerintah RI dan dunia usaha akan berpotensi meningkatkan import cotton dari US senilai US$ 4,5 miliar,” ujar Ian Syarif.
Artikel pilihan:
Wajib L/C Ekspor Migas Bisa Tambah Penerimaan Negara Puluhan Triliun Rupiah
Asosiasi melihat pentingnya kerja sama saling menguntungkan bersama dengan para petani kapas AS, sehingga imbal balik perdagangan cotton dan tekstil kedua negara benar-benar bisa memperkokoh hubungan kemitraan di masa depan. Ian Syarif menambahkan, dengan skema imbal balik antara impor cotton dari US ke Indonesia dan ekspor tekstil garmen berbahan baku cotton dari Indonesia ke US, akan mempersempit gap trade desifit US–
Indonesia yang mendasari pengenaan tarif resiprokal tinggi AS.
Garmen dan tekstil selain yang berbahan baku kapas, lanjut dia, juga cukup banyak yang menggunakan bahan baku rayon, yang diolah dari hutan tanaman industri RI. “Artinya, ini juga produk agro yang dikelola secara sangat baik di Indonesia. Sebaiknya pemerintah juga bisa melihat secara langsung bagaimana anggota asosiasi pertekstilan yang memiliki industri rayon (viscose) di Indonesia sudah diolah dengan sangat profesional dan benar-benar memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup, karena proses tanam, pembesaran pohon, dan pemanfaatan pohon kayu sebagai bahan dasar rayon sudah menjadi siklus yang sangat baik tanpa mengorbankan lingkungan,” kata Ian Syarif.
Asosiasi meminta Presiden Prabowo dan Menko Perekonomian Airlangga untuk duduk di perundingan negosiasi lagi, demi memetakan bahwa industri tekstil dan garmen adalah bagian penting dari komoditas sumber daya alam berbasis agroindustry tropis. Hal ini merupakan kepentingan bersama antara US dan Indonesia, petani cotton dan rayon, hingga manufacture padat karya di berbagai wilayah Nusantara.
“Asosiasi tetap berharap pemerintah mampu mengomunikasikan kepentingan dua negara, US dan Indonesia, sehingga tarif resiprokal AS nol persen — atau setidaknya jauh di bawah 19% — bisa diberikan oleh US kepada Indonesia,” tandasnya.
Kepentingan domestik ini tentunya juga searah dengan target ambisius pemerintah RI saat ini yang mencanangkan serapan 19 juta tenaga kerja. Di sisi lain, API melihat bahwa hal tersebut bukan perkara mudah, maka itu industri yang mampu menyerap tenaga kerja semasif mungkin dengan investasi yang tidak terlalu besar musti digencarkan seluas-luasnya. Ini termasuk sektor padat karya industri garmen dan tekstil hingga alas kaki.
“Saat ini, sektor padat karya mampu menyerap sekitar 3,97 juta tenaga kerja, merupakan 20% dari total tenaga kerja industri manufacture dalam negeri. Dalam dua tahun ke depan, jika pemerintah dan dunia usaha benar-benar bisa bersinergi untuk mempertahankan dan memperkuat kebijakan publik pada sektor padat karya, hal itu bisa membuka lebih dua kali lipat tenaga kerja,” tuturnya.
API, kata Ian, benar-benar memohon agar Presiden Prabowo dan Menko Perekonomian Airlangga turun tangan untuk memasukkan produk tekstil berbahan baku kapas AS dan mengklasifikasikan rayon sebagai produk tropis bernilai tambah dalam skema daftar prioritas tarif resiprokal AS 0%. Dengan demikian, industri padat karya di Tanah Air berkembang dan bisa melindungi jutaan lapangan kerja yang makin dibutuhkan rakyat.
