Ketua Umum Wamti Agusdin Pulungan. Foto: Dokumentasi pribadi.
Oleh Agusdin Pulungan,
Ketua Umum Wahana Masyarakat Tani Nelayan Indonesia (Wamti)
UKMDANBURSA.COM – Di tengah kabar baik pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2025 naik mencapai ke 5,12% year on year (yoy) atau tertinggi sejak kuartal II 2021 di masa pendemi Covid-19, ada fakta yang memprihatinkan. Sektor penting Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan justru pertumbuhannya sangat rendah, hanya 1,65% yoy.
Lapangan usaha Jasa Lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi 11,31% yoy. Sedangkan sektor penting lain Industri Pengolahan tumbuh di atas ekonomi nasional, yakni 5,68% yoy pada triwulan II.
Padahal, sektor Pertanian dalam arti luas ini menyerap tenaga kerja Indonesia paling banyak mencapai 28,54% per Februari 2025, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) 13,83% kuartal II. Berikutnya kedua terbesar yang menyerap pekerja adalah lapangan usaha Perdagangan 19,26% (13,02% PDB) dan ketiga Industri Pengolahan 13,45% (18,67% PDB atau tertinggi).
Berita terkait
Ekonomi Indonesia Triwulan II Tumbuh Kuat 5,12%, Apa Pendorong dan Siapa Pemberatnya?

Dengan menanggung beban pekerja paling banyak sementara PDB yang dihasilkan lebih rendah, tidaklah mengherankan banyak petani di Tanah Air miskin dan rentan. Badan Pusat Statistik mencatat, tingkat kemiskinan di perdesaan yang notabene banyak petani masih tinggi 11,03%, sedangkan perkotaan sebesar 6,73%.
Selain penguasaan lahannya sempit di bawah skala ekonomi usaha tani, ujung tombak ketahanan pangan nasional ini juga menghadapi tantangan besar perubahan cuaca yang makin tidak menentu. Musim hujan sering telat datang, kekeringan makin panjang, dan kadang hujan turun deras tiba-tiba.
Dulu petani bisa menebak waktu tanam dan panen dengan mudah. Tapi sekarang, banyak petani yang gagal panen karena cuaca susah diprediksi.
Risiko Kehilangan Mata Pencaharian
Petani kecil merupakan kelompok yang paling rentan lantaran keterbatasan akses terhadap informasi cuaca, teknologi adaptif, pembiayaan, dan perlindungan sosial. Tanpa dukungan pemerintah yang memadai dan bebas korupsi, mereka berisiko mengalami gagal panen dan kehilangan mata pencaharian. Oleh karena itu, pemerintah terutama harus turun tangan memperkuat ketahanan iklim petani.
Ketahanan iklim petani adalah kemampuan petani untuk menghadapi, menyesuaikan diri, dan pulih dari dampak perubahan iklim. Ini adalah cara memberdayakan petani agar tetap bisa bertani dengan baik dan panennya bagus.
Saat ini, terdapat beberapa program pemerintah dan sarananya yang dapat ditingkatkan pemanfaatannya oleh petani, agar kuat dalam menghadapi perubahan iklim. Ini antara lain kesempatan untuk ikut sekolah lapang iklim. Di sini, petani dapat belajar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang cara membaca, mengantisipasi, dan mengatur waktu tanam.
Petani bisa bergabung dalam gerakan kampung iklim atau ProKlim, untuk menjadikan desa lebih tangguh dengan menanam pohon, mengelola air dan menjaga lingkungan sekitar sawah. Sebagai contoh, petani di Desa Topobali, kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur sudah mulai menanam sorgum dan singkong pada saat padi dan jagung tidak bisa tumbuh akibat shift musim.
Berita terkait:
BI Menurunkan BI Rate 25 Bps Jadi 5,25%, Ini Alasannya
Para petani juga membuat embung dan kebun bersama. Hasilnya? Petani tetap bisa panen meski musim hujan datang terlambat, dari yang biasanya Oktober menjadi Desember.
Selain itu, pemerintah perlu memperbesar pemanfaatan asuransi usaha tani dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Hijau. Kredit ini merupakan Kredit Usaha Tani (KUT) yang mendukung pertanian ramah lingkungan, seperti pupuk organik atau tanaman yang tahan kering.
Dengan strategi ini, petani mampu produktif meski dihadapkan pada musim tanam yang tidak menentu, akibat perubahan iklim.
Faktor Penguat Ketahanan Iklim Petani
Dalam konteks krisis iklim dan tantangan keberlanjutan pangan, penting juga untuk memahami bagaimana keanekaragaman hayati, agroekologi, dan mitigasi perubahan iklim saling terkait dan memperkuat untuk mendukung ketahanan iklim petani kecil di Indonesia. Para pemangku kepentingan harus memahami bagaimana faktor-faktor keanekaragaman hayati, agroekologi, dan mitigasi iklim dapat dintegrasikan untuk saling memperkuat.
Para pemangku kepentingan harus membantu agar keanekaragaman hayati — baik dalam bentuk varietas tanaman, ternak lokal, mikroorganisme tanah, maupun ekosistem sekitarnya — dapat dipetahankan dan dikembangkan untuk menjadi aset terpenting bagi ketahanan keluarga petani. Keberagaman varietas lokal memungkinkan petani memilih dan mengembangkan tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi mikroklimat, hama, dan kekeringan. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ketahanan terhadap gangguan lingkungan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada input eksternal seperti pestisida dan pupuk kimia.
Aplikasi agroekologi penting diperluas, yang merupakan penggabungan ilmu ekologi dengan praktik pertanian tradisional. Hal ini dapat mengharmonisasikan antara kegiatan manusia dengan cara-cara alamiah. Praktik-praktik seperti rotasi tanaman, integrasi ternak, penggunaan pupuk organik, konservasi air, dan pemanfaatan varietas lokal bukan hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan keberlanjutan ekonomi petani.
Melalui praktik agroekologi seperti agroforestri, pemulihan lahan terdegradasi, dan konservasi tutupan vegetasi, petani juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan penyerapan karbon. Lahan gambut, mangrove, dan sistem agroforestri tradisional tercatat menyimpan potensi besar sebagai penyerap karbon alami jika dikelola secara bijak oleh komunitas petani.
Keanekaragaman hayati ini mendukung keberhasilan praktik agroekologi dalam menjaga dan mengelola biodiversitas secara produktif. Keduanya bersama-sama mendukung aksi mitigasi iklim oleh petani, yang dapat menciptakan sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap tekanan lingkungan dan ekonomi.
Mengefektifkan Dana Desa
Masa depan pertanian Indonesia dipastikan bergantung pada kemampuan untuk menjaga keanekaragaman hayati, mengadopsi pendekatan agroekologi, serta berkontribusi aktif dalam mitigasi perubahan iklim. Semua ini dapat dicapai melalui: a) penguatan petani sebagai aktor utama transformasi, b) kebijakan public dan dukungan riset, c) akses terhadap teknologi ramah lingkungan, plus d) penguatan pasar lokal.
Untuk mengonkritkan hal-hal tersebut diperlukan langkah kebijakan sebagai berikut:
- Perlindungan varietas lokal milik petani melalui sistem hak kolektif/komunitas.
Pengembangan bank benih komunitas oleh kelompok tani dan koperasi petani. Insentif konservasi in-situ untuk tanaman dan ternak lokal yang terancam hilang. - Insentif dan dukungan untuk praktik agroekologi.
Pengalihan subsidi dari pupuk kimia ke input hijau seperti kompos, biochar, pupuk hayati, dan pestisida nabati. Selain itu, pelatihan agroekologi berbasis petani melalui Sekolah Lapang Pertanian (SLP) dan skema kredit hijau berbunga rendah bagi petani agroekologis. - Integrasi pertanian dalam strategi mitigasi iklim.
Insentif berbasis hasil bagi petani yang menjaga tutupan lahan atau rehabilitasi lahan kritis. Kemudian, integrasi usaha tani dalam Nationally Determined Contributions (NDC/kontribusi yang ditentukan secara nasional dalam pengurangan emisi gas rumah kaca). Selain itu, mengimplementasikan skema karbon komunitas berbasis lahan pertanian dan agroforestri dengan mekanisme pembagian manfaat yang adil. - Reformasi sistem pendukung dan perdagangan lokal.
Penguatan pasar lokal melalui pasar tani, koperasi, dan jaringan produsen-konsumen dengan melibatkan pelaku utama para petani. - Integrasi dalam perencanaan daerah.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) perlu mengarusutamakan pertanian petani kecil berbasis agroekologi, sebagai strategi adaptasi dan mitigasi iklim. Dana Desa dapat diarahkan untuk kegiatan seperti kebun agroekologi, pelestarian varietas lokal, dan pelatihan sumber daya berbasis komunitas. - Kolaborasi lintassektor dengan lembaga riset dan universitas untuk pengembangan inovasi lokal.
Jadi, mendukung petani kecil bukan hanya soal meningkatkan produksi pangan, tapi juga menyangkut investasi pada keberlanjutan lingkungan, ketahanan sosial, dan adaptasi iklim. Dengan kebijakan yang berpihak dan terintegrasi, petani Indonesia dapat menjadi pelopor transformasi pertanian berbasis agroekologi yang inklusif, resilien, dan berkeadilan.
Kolaborasi antara negara, petani, masyarakat sipil, lembaga riset dan ilmu pengetahuan, serta BUMN terkait pertanian dan hilirisasi tidak hanya menjadi kunci agar petani memiliki ketahanan terhadap iklim. Namun, juga mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto khususnya swasembada pangan, ekonomi hijau, dan pemberantasan kemiskinan. **

2 thoughts on “Ketahanan Iklim Petani Indonesia, Pertanian Jangan Ditinggalkan”