Ricky Perdana Gozali saat acara pengucapan sumpah jabatan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia di hadapan Ketua Mahkamah Agung Prof Dr Sunarto, SH, MH. Foto: BI/ukmdanbursa.com.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Presiden Prabowo Subianto akhirnya menunjuk Ricky Perdana Gozali sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ricky yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta ini mendapat promosi setelah Kepala Negara mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 68/P Tahun 2025 tertanggal 29 Juli. Seiring perombakan Dewan Gubernur BI tersebut, rupiah tercatat menguat hari ini.
Pada hari ini, Senin, 11 Agustus 2025, Ricky Perdana Gozali mengucapkan sumpah jabatan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia di hadapan Ketua Mahkamah Agung, Prof Dr Sunarto, SH, MH. “Ricky telah berkarier di Bank Indonesia selama 30 tahun dengan pengalaman bertugas, antara lain, di Departemen Internasional, Departemen Pengelolaan Devisa, dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di New York. Ricky juga memiliki pengalaman menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Kalimantan Timur, dan Sumatra Selatan. Selain berbagai penugasan tersebut, Ricky juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI),” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 11 Agustus 2025.
Berita terkait:
Sentimen Agustus Ekonomi Membaik dan Bunga Turun, Sektor Apa Bangkit?
Masa jabatan Ricky sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia ini berlaku selama lima tahun. Dengan demikian, susunan Dewan Gubernur Bank Indonesia yang baru menjadi sebagai berikut:
Gubernur: Perry Warjiyo
Deputi Gubernur Senior: Destry Damayanti
Deputi Gubenur:
-Juda Agung
-Aida S Budiman
-Filianingsih Hendarta
-Ricky Perdana Gozali
Sebelumnya, anggota Dewan Gubernur BI yang terbaru dilantik adalah Destry Damayanti. Ia resmi menjabat kembali sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia periode keduanya — tahun 2024-2029 — usai mengucap sumpah jabatan di gedung Mahkamah Agung pada 7 Agustus 2024.
Rupiah Menguat 0,28%
Bank Indonesia mencatat, pada transaksi valas awal pekan ini, rupiah ditutup terapresiasi terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan kurs Jisdor BI, posisi mata uang Garuda menguat 46 poin atau 0,28% ke level Rp 16.253 per dolar AS, Senin sore.
Penguatan ini juga seiring dengan kinerja penjualan eceran di Tanah diperkirakan meningkat pada Juli 2025.
| Tanggal | Kurs |
|---|---|
| 11 Agustus 2025 | Rp16.253,00 |
| 8 Agustus 2025 | Rp16.299,00 |
| 7 Agustus 2025 | Rp16.312,00 |
| 6 Agustus 2025 | Rp16.379,00 |
| 5 Agustus 2025 | Rp16.388,00 |
| 4 Agustus 2025 | Rp16.388,00 |
| 1 Agustus 2025 | Rp16.494,00 |
| 31 Juli 2025 | Rp16.459,00 |
| 30 Juli 2025 | Rp16.387,00 |
| 29 Juli 2025 | Rp16.399,00 |
Berita terkait:
Ekonomi Indonesia Triwulan II Tumbuh Kuat 5,12%, Apa Pendorong dan Siapa Pemberatnya?
Pada kesempatan terpisah, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan, pergerakan mata uang juga dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Ini seperti gencatan perang tarif AS-Tiongkok — yang telah mengendalikan peningkatan bea masuk — akan berakhir pada 12 Agustus. Meski pasar berharap gencatan senjata ini akan diperpanjang, ketidakpastian mengenai hasilnya masih berlanjut.
“Lonjakan ekspor Tiongkok minggu lalu, yang dilaporkan sebesar 7,2% year on year untuk bulan Juli, menunjukkan para eksportir bergegas mengirimkan barang sebelum potensi tarif baru. Selain itu, AS menerapkan tarif ‘timbal balik’ baru pada 7 Agustus, yang menargetkan barang-barang dari sejumlah negara dengan bea masuk hingga 50%,” ujarnya.
Kemudian, harapan untuk kemungkinan berakhirnya sanksi yang membatasi pasokan minyak Rusia ke pasar internasional meningkat. Hal ini setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa ia akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus di Alaska, untuk merundingkan akhir perang di Ukraina.
“Perundingan ini menyusul meningkatnya tekanan AS terhadap Rusia, yang meningkatkan kemungkinan bahwa sanksi terhadap Moskow juga dapat diperketat jika kesepakatan damai tidak tercapai. Trump menetapkan batas waktu Jumat lalu bagi Rusia — yang menginvasi Ukraina pada Februari 2022 — untuk menyetujui perdamaian atau para pembeli minyaknya akan menghadapi sanksi sekunder. Di saat yang sama, Washington mendesak India untuk mengurangi pembelian minyak Rusia,” tuturnya.
Tarif impor yang lebih tinggi yang diberlakukan Trump terhadap puluhan negara yang mulai berlaku hari Kamis, lanjut dia, diperkirakan akan membebani aktivitas ekonomi karena memaksa perubahan rantai pasokan dan memicu inflasi yang lebih tinggi. Hal ini mendorong indeks dolar AS melemah pada Senin.
Sejauh ini, tarif resiprokal untuk produk Indonesia diturunkan AS menjadi 19%, dari semula diumumkan sebesar 32% pada April 2025. Penurunan itu merupakan hasil negosiasi antara kedua kepala negara dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, seperti bebas tarif impor untuk produk dari AS, serta Indonesia bakal membeli produk energi AS senilai US$ 15 miliar dan produk pertanian US$ 4,5 miliar, plus 50 unit pesawat Boeing mayoritas seri 777.
“IMF (International Monetary Fund) menilai, ketegangan geopolitik yang saat ini terjadi dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi, mengganggu rantai pasok global, dan membuat harga komoditas naik. Meski begitu, proyeksi pertumbuhan ekonomi global saat ini disinyalir dapat meningkat, asalkan terdapat kebijakan yang mampu menciptakan kepercayaan, prediktabilitas, dan keberlanjutan dalam meredam ketegangan dan menjaga stabilitas harga,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menuturkan, IMF juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi 4,8%, pada publikasi terbaru Juli 2025. Sebelumnya, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7% tahun ini.
“Revisi IMF itu juga sejalan dengan kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, yang pada 2025 menjadi 3% (naik 0,2 poin persen) dan pada 2026 mencapai 3,1% (naik 0,1 poin persen) dibanding proyeksi April 2025. Menurut IMF, kenaikan itu didorong oleh permintaan yang lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya, salah satunya akibat antisipasi terhadap tarif yang lebih tinggi, rerata tarif Trump yang turun dibandingkan pengumuman April lalu, perbaikan kondisi finansial, pelemahan dolar AS, hingga ekspansi fiskal di sejumlah yurisdiksi utama,” ungkapnya.
Indeks Penjualan Tumbuh, Inflasi Meningkat
Sementara itu, kinerja penjualan eceran nasional diperkirakan meningkat pada Juli 2025. Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,8% (year on year) — lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya 1,3% yoy — hingga mencapai level 222,5. Peningkatan tersebut terutama bersumber dari Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
“Sedangkan secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2025 diprakirakan mencatat kontraksi sebesar 4,0% (month to month). Hal ini dipengaruhi oleh penurunan penjualan Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Makanan, Minuman, dan Tembakau, seiring berakhirnya periode libur dan cuti bersama dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah,” papar Denny.

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu pada September, 2025 diprakirakan menurun, sementara tekanan inflasi pada enam bulan mendatang, yaitu pada Desember, diprakirakan meningkat. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2025 sebesar 134,7, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 139,6.
“Sementara itu, IEH Desember 2025 tercatat sebesar 163,4. Ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 151,3,” tandasnya.
