Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi. Foto: Dokumentasi pribadi.
JAKARTA, ukmdanbursa.com – Di tengah kondisi rupiah kembali melemah yang mendorong inflasi naik, harga emas diperkirakan bakal tembus US$ 3.600/troy ounce (oz t). Sejumlah aturan baru perpajakan dalam transasksi emas dikeluarkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mulai berlaku Agustus ini.
“Harga emas akan bergerak di kisaran support US$ 3.334 per troy ounce hingga resistance US$ 3.350 per troy ounce dalam jangka pendek. Namun, dalam semester kedua 2025, saya optimistis emas bisa mencapai US$ 3.600,” kata pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, Jakarta, Minggu (3/8/2025).
Prediksi ini, lanjut dia, didukung analisis fundamental dan teknikal yang menunjukkan tren kenaikan harga.

Berita terkait:
Surplus Neraca Perdagangan Turun ke US$ 4,1 Miliar, Inflasi Juli Naik Tembus 0,30%
Ekonomi dan Politik AS Merosot
Komite Humas dan Literasi ASPEBTINDO Periode 2025-2029 itu menjelaskan, harga emas dunia di penutupan pasar Amerika Serikat mengalami kenaikan 2%. Kenaikan tajam harga logam mulia ini terjadi setelah data ketenagakerjaan ekonomi terbesar dunia tersebut menunjukkan pelemahan signifikan.
Departemen Tenaga Kerja AS baru saja melaporkan bahwa non-farm payrolls hanya bertambah 73.000 pada Juli. Hal ini jauh di bawah ekspektasi sebesar sekitar 110.000 pekerjaan. The Wahington Post melansir, sebagian besar pertumbuhan pekerjaan juga datangnya dari sektor kesehatan dan bantuan sosial, sementara sektor industri dan konstruksi stagnan atau menurun. Data bulan Mei dan Juni juga direvisi turun gabungan sebesar 258.000 pekerjaan — menunjukkan perlambatan yang lebih dalam dari sebelumnya diantisipasi.
Data itu bahkan memicu kemarahan Trump. Pengusaha dan politisi yang bapaknya dikenal sebagai konglomerat properti papan atas New York ini kemudian pada 1 Agustus memecat Erika McEntarfer, komisaris Bureau of Labor Statistics (BLS), dengan menuduh tanpa bukti bahwa data pekerjaan dimanipulasi untuk merugikannya secara politik.
“Data ini lebih rendah dari perkiraan para ekonom. Bahkan, meningkat tingkat pengangguran nasional (AS) menjadi 4,2% dari 4,1%,” ucap Ibrahim.
Lemahnya pertumbuhan lapangan kerja di negeri adidaya itu mendorong pasar memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) AS sebelum akhir 2025. Ini akan dimulai pada September.
Perpolitikan di AS pun memanas setelah salah satu dari tujuh gubernur Federal Reserve, Adriana Kugler, mengundurkan diri dari jabatannya. Kugler merupakan gubernur The Fed yang ditunjuk oleh Presiden AS sebelumnya Joe Biden. The Fed tercatat mengumumkan pengunduran diri itu pada Jumat (1/8), ketika Presiden AS Donald Trump tetap gigih mendorong penurunan suku bunga.
Pergeseran personel Bank Sentral AS itu terjadi di tengah tekanan yang semakin meningkat di bawah administrasi Trump, yang telah berulang kali mengkritik Chairman The Fed Jerome Powell karena tidak menurunkan suku bunga lebih cepat. Trump juga sempat menyatakan bahwa apa yang ia sebut sebagai renovasi kantor pusat The Fed terlalu mahal dapat menjadi alasan untuk menggulingkan Powell, sebelum akhirnya menarik kembali ancamannya.

Tak kalah menarik, perang dagang kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada Kamis malam yang menaikkan tarif impor baru hingga 50% untuk puluhan negara. Bea masuk luar biasa tinggi tersebut akan mulai berlaku pada pukul 12:01 dini hari tanggal 7 Agustus.
Negara-negara industri besar yang menjadi mitra dekatnya seperti Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan akan dikenakan bea masuk oleh Trump sebesar 15%. Sementara tarif yang lebih tinggi akan dikenakan pada negara-negara lain, termasuk pungutan sebesar 50% untuk Brasil dan Indonesia 19%. Trump juga menaikkan tarif untuk negara tetangga Kanada menjadi 35% atas barang-barang yang tidak mematuhi Perjanjian AS-Meksiko-Kanada, yang ditandatangani pada masa jabatan presidennya yang pertama.
Geopolitik Eropa Memanas
Selain itu, Geopolitik di Eropa kembali memanas. Hal ini gara-gara Rusia melakukan serangan drone mematikan di kota perbatasan antara Rusia dan Ukraina, yang membuat Trump kembali bersumpah untuk memberikan sanksi yang lebih berat. Trump sebelumnya dikenal memiliki sikap pro‑Presiden Rusia Vladimir Putin dan masih melakukan komunikasi tinggi dengan Kremlin, tapi ada banyak kritik dan perubahan sikap seiring waktu belakangan.
Washington juga mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% kepada pembeli minyak terbesar Rusia, Tiongkok dan India, sekaligus mengenakan tarif sebesar 25% kepada India atas hubungannya dengan Moskow. Penghentian pembelian minyak Rusia oleh Tiongkok dan India dapat secara signifikan membatasi pasokan global, mengingat keduanya juga merupakan importir minyak terbesar di dunia.
Aturan Baru
Sementara itu, Menkeu mengeluarkan aturan pajak terbaru PMK 51/2025 dan PMK 52/2025 yang ditandatangani 25 Juli 2025 dan berlaku mulai 1 Agustus 2025, mengenai semua transaksi emas. Berdasarkan aturan anyar mengenai emas ini, bisa diringkas poin-poin pentingnya sebagai berikut.
-Penjualan dari pengusaha emas kepada konsumen akhir/usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)/SKB/Bank Indonesia/pasar digital/Lembaga Jasa Keuangan (LJK) bullion: bebas pajak.
-Konsumen akhir membeli emas batangan maupun perhiasan: bebas pajak penghasilan (PPh) 22.
–Bullion bank membeli emas batangan → dikenakan PPh 22 sebesar 0,25 %, kecuali transaksi ≤ Rp 10 juta dari konsumen akhir.
-Menghapus pajak ganda yang sebelumnya terjadi, sehingga menciptakan efisiensi dan keadilan. Semula, penjual emas memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,25% atas penjualan kepada LJK bullion, sementara LJK bullion sebagai pembeli juga memungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5% atas pembelian yang sama.
| Pengundangan resmi | 28 Juli 2025 |
| Efektif mulai berlaku | 1 Agustus 2025 |

1 thought on “Rupiah Melemah Dorong Inflasi Naik, Emas Bakal Tembus US$ 3.600/Troy Ounce”